5783 – Hasyim Purnama | Just another Weblog Universitas Esa Unggul site

Efek Media Massa

Modul                                    

PSIKOLOGI KOMUNIKASI

Oleh Drs. Hasyim Purnama, M.Si

 

 

 

EFEK MEDIA MASSA

A. Pendahuluan

 

Media massa secara teoretis memiliki fungsi sebagai saluran informasi,saluran pendidikan dan saluran hiburan, namun kenyataannya media massa memberi efektif lain diluar fungsi itu. Efek media massa tidak saja mempengaruhi sikap seeorang namun pula dapat mempengaruh perilaku, bahkan pada tataran yang lebih jauh. Efek media massa dapat mempengaruhi sistem-sistem sosial maupun sistem budaya masyarakat.

Selain itu  media dapat mempengaruhi sesorang dalam waktu pendek dan dalam waktu panjang. Efek media massa terjadi karena  di sengaja dan efek media yang diterima masyarakat tanpa disengaja.

Ibarat sebuah bola yang menggelinding di lapangan, efek media sangat tergantung dari siapa yang menendang bola itu,dalam kondisi apa bola itu ditendang serta bagaimana kondisi lawan, sehingga kadang menghasilkan skor yang dapat direncanakan namun kadang skor itu tercipta tanpa direncanakan sama sekali.

Denis McQuail (2002:425-426) menjelaskan bahwa efek media massa memiliki empat typologi besar. Pertama, efek media yang direncanakan. Sebuah efek yang diharapkan terjadi baik oleh media massa sendiri ataupun orang yang menggunakan media massa untuk kepentingan berbagai penyebaran informasi. Kedua, efek media massa yang tidak direncanakan atau tidak dapat diperkirakan. Efek yang benar-benar diluar kontrol media, di luar kemampuan media ataupun orang lain yang menggunakan media untuk penyebaran informasi. Jadi, pada efek kedua ini, efek media terjadi dalam kondisi tidak dapat diperkirakan dan tidak dapat di kontrol. Ketiga, efek media massa terjadi dalam waktu pendek,  secara cepat, instan,dan keras memengaruhi seorang atau masyarakat. Keempat, efek media massa dalam waktu yang lama. Sehingga mempengaruhi sikap-sikap adopsi inovasi, kontrol sosial sampai dengan perubahan kelembagaan, dan persoalan-persoalan perubahan budaya.

 

 

B. Pembahasan

 

1. Efek Media Masa yang direncanakan

 

Efek media massa yang dapat direncanakan bisa terjadi dalam waktu yang pendek atau cepat, tetapi juga bisa terjadi dalam waktu yang lama. Efek media massa yang dapat direncanakan dan dalam waktu yang cepat yaitu seperti propaganda, respon individu, kampanye media, news learning, pembingkaian berita, dan agenda-setting. Sebuah pemberitaan media massa melalui propoganda misalnya, maka media massa yang dapat melakukannya dalam waktu singkat, yaitu beberapa menit di media massa, kemudian efek media massanya dapat pula diperkirakan sampai seberapa jauh menerpa masyarakat, termasuk luasan efek yang dapat terjadi. Begitu pula kampanye seperti iklan, dapat juga dilakukan dalam waktu singkat, dan efek iklan dapat diperkirakan sejauh mana mempengaruhi masyarakat. Pembingkaian berita, dengan maksud-maksud tertentu oleh sebuah media massa, dapat dilakukan dalam waktu pendek dan efeknya dapat membentuk opini-opini yang bisa diperkirakan oleh media, termasuk pula aganda setting berakibat terhadap terpolanya aganda masyarakat sesuai dengan pilihan aganda media.

Namun efek media yang terencana ini juga tdapat dilakukan dalam waktu yang lama, dengan efek media yang lama pula terjadi di masyarakat. Dengan pemberitaan yang direncanakan oleh media, maka media dapat merencanakan terjadinya sebuah difusi dalam berbagai objek pembangunan di masyarakat. Namun pula, karena waktu yang lama, maka pemberitaan terhadap sebuah objek terdifusi berbagai pemberitaan disekitar itu, bahkan akan terjadi media dapat menyebabkan gagasan-gagasan difusi inovasi terhadap hal-hal yang baru di masyarakat. Sebuah difusi inivasi yang baik di masyarakat akan dengan maudah mendapat penerimaan masyarakat, karena itu dalam waktu yang lama, media dapat menyebarkan difusi inovasi pada seluruh lapisan masyarakat.  

Contoh dari dua tipologi efek media ini adalah sederet pemberitaan media tentang penggunaan penggunaan formalian dalam makanan. Berita ini bisa dipropaganda, bisa dikampanyekaan memdia, bahkan bisa pula menjadi agenda setting, namun dilakukan dalam waktu pendek, efeknya dimasyarakat adalah bahwa masyarakat menjadi sangat terpukul, karena selama ini mereka tidak menyadari makanannya telah teracuni formalin dan berbagai zat peracun lainnya. Ada masyarakat yang takut mengkonsumsi beberapa jenis makanan, akibatnaya beberapa produsen makanan yang diduga tercemat itu bangkrut. Pemerintah dan para tokoh masyarakat ikut berwacana untuk membuat peraturan yang mengatur formalin dan zat-zat beraracun lainnya. Dahsyatnya pemberitaan formalin menyebabkan mereka sedang dihinggapi teropr racun, ngeri, dan menyeramkan. Namun perasaan mengerikan dan menyeramkan itu lambat laun akan berkurang seirama dengan berkurangnya pemberitaan tentang formalin itu di media massa. Sedangkan siaran media massa, khususnya televisi tentang lagu-lagu dangdut mengebor dalam waktu yang lama, walaupun pada awalnya ditentang oleh banyak pihak di masyarakat, namun lama kelamaan, acara-acara itu kemudian juga dapat diterima oleh masyarakat itu. Bahkan media sadar bahwa acara mengebor itu akan melahirkan acara  lain disekitarnya seperti acara wawancara dengan fikur-figur ngebor, penayangan kisah hidup mereka,  acara baru lainnya yang meniru acara ngebor dan sebagaianya.

2. Efek Media yang Tidak Terencana

Efek media yang terjadi tidak terencana dapat berlangsung dalam dua tipologi. Pertama, terjadi dalam waktu cepat. Efek ini terjadi merupakan tindakan reaksional terhadap pemberitaan yang tiba-tiba mengagetkan masyarakat. Pemberitaan semacam ini tanpa disadari oleh media massa akan menimbulkan arekasi individu yang merasa dirugikan, kelompok mereasa dikecewakan, bahkan bisa terjadi tindakan kekerasan. Contoh Reaksi terhadap pemberitaan Majalah Tempo, oleh seorang pengusaha di Jakarta, sehingga sempat ke pengadilan. Aksi pendudukan Banser di Kantor Redaksi Jawa Post di Surabaya. Penyerbuan Kantor Redaksi Harian Merdeka, oleh sekelompok pmuda yang merasa dicemarkan nama baiknya. Contoh-contoh tersebut merupakan efek media yang tak diduga dan dikendalikan oleh media massa.  Kedua, terjadi dalam waktu lama. Pemberitaan tentang kekerasan dan kriminal, seperti Drap Hukum, Tikam, Patroli, dan sebagainya, sekilas dalam waktu pendek tidak bermasalah. Orang yang menonton secara tidak langsung melakukan tindakan-tindakan melanggar hukum yang dilihatnya di televisi dan media massa lainnya. Namun dalam waktu yang lama, tanpa disadarinya acara-acara semacam itu akan menciptakan “ jalana keluar” yang tak dikehendaki oleh dirinya sendiri. Apabila ia mengalami masalah yang sama dengan apa yang dilihatnya di televisi, efek media massa ini akan menciptakan “ peta analog” mengenai jalan keluar dari masalah yang dihadapinya.

Dari tingkatr kekuatan dan kerusakan sosial yang diakibatkan efek media massa, maka dapat disimpulkan bahwa kerusakan sosial akobat efek media massa adalah melalui dua tahap, yaitu : Pertama, efek yang mudah terjadi adalah pada tatanan fisik dan perilaku indiviadu ( perilakau organisme) yang berdeampak pada perilakau kelompok dan masyarakat. Perilaku ini terlihat mulai dari menolak, menahan diri, dan sampai perilaku menerima. Atau juga efek emosional, seperti ketakutan, pobia, sampai dengana efek melawan. Kedua, efek yang merusak tatanan sikap ( norma personal) dan norma-norma lain di sekitar sikap, seperti meruisak ssistem sosial dampaia dengan merusak sistem budaya serta lingkungan yang lebih luas.

Media sering menyajikan nilai kekerasan. Disajikan sepertinya hanya sebagai berita atau informasi, disajikan dengan gaya yang indah dan dikemas menjadi berseni, menarik. Namun di dalamnya ada terjasi nilai-nilai kekerasan. Nilai-nilai itu dapat mempengaruhi tanpa sadar masyarakat yang menontonnya. Maka etika komunikasi mau tak mau juga harus merumuskan, mendefinidikan dan menentukan batas-batas kekerasan. Kekerasan dapat terjadi sebagai dokumen maupun fisik. Juga semacam latihan/simulasi kekerasan. Tanpa terkecuali kekerasan yang sifatnya symbol, kekerasan yang berupa sikap tidak saling peduli masyarakat. Dalam hal ini, maka etika komunikasi diciptakan agar dapat mendukung pihak yang rentan menjadi korban kekerasan media, tanpa terjebak bersikap represif.

Menurut Komnas Perlindungan Anak pelajar yang terlibat tawuran berkarakter peniruan ulang,  emosi terganggu reaktif, suka tantangan dan bahaya, tidak disiplin,  kurang berhati nurani,  kurang memahami perilaku dan spiritual yang baik serta kurang mengenal toleransi, demokrasi, dan hak azasi manusia.

Selanjutnya menurut Seto Mulyadi mengemukakan , pelbagai karakter  itu hidup dalam diri anak-anak yang akrab dengan nilai kekerasan di rumah dan sekolah,misalnya berdalih mengajari ketisiplinan, orangtua dan guru merasa berhak memarahi, menjewer, memukul, hingga melukai anak. Perilaku seperti itulah juga sering dipahami dan ditiru oleh anak.

 

 

 

 

Contoh kekerasan tawuran di Jakarta pada tahun 2010 dan  2011 sebagai berikut :

TAHUN 2010

TAHUN 2011

Peristiwa Tawutaran

Meninggal

Peristiwa Tawutaran

Meninggal

128

40

339

82

Sumber Kompas 21 Desember 2011

 

Memang perilaku kekerasan bukan semata-mata diakibatkan oleh pemberitaan di media massa, namun sangat dipengaruhi oleh faktor lain yaitu ekonomi, sosial dan budaya. Namunb dapat diartikan maraknya kekerasan desawa ini tetap hidup, mencerminkan kegagalan pemerintah, masyarakat, keluarga, sekolah dan aparat  untuk melindungai setiap warga negara sebagaaimana tercantum dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia.

Penataan dan pengaturan terhadap sepak terjang media di tengah masyarakat tidak dapat dihindari. Dengan regulasi public, maka dapat dihilangkan, paling tidak dikurangi konflik di tengah masyarakat yang dipicu oleh informasi yang sesungguhnya multi tafsir. Regulasi juga sangat diperlukan mengingat pluralitas pada seluruh dimensi masyarakat, yang harus dibarengi dengan deontology profesi jurnalis. Agar media tidak sewenang-wenang, berat sebelah, pilih kasih. Ada banyak macam regulasi public yang bisa disajikan dan dilakukan serta diawasi oleh public sendiri. Ara regulas yang menitikberatkan pada soal procedural. Regulasi itu harus memperhatikan secara seimbang, untuk tidak berat sebelah, atau terjebak pada salah satu dari aliran etika yang saling bersaing, yakni deontology, teleology dan situasional. Akan tetapi bagaimana tiga aliran yang ada itu diolah, bukan dikalahkan satu sama lain, sehingga menghasilakan etika yang baik.

 

Efek media massa yang terjadi pada masyarakat adalah sebagai berikut:

1.      Penyebaran budaya global yang menyebabkan masyarakat berubah dari tradisional ke modern, dari modern ke post-modern, dan dari taat beragama ke sekuler.

2.      Media masa kapitalis telah memicu hilangnya berbagai bentuk kesenian dan budaya tradisional di masyarakat yang mestinya dilestarikan.

3.      Terjadinya perilaku imitasi yang kadang menjurus kepada meniru hal-hal yang buruk dari apa yang ia lihat dan ia dengar dari media massa.

4.      Efek media massa sering secara brutal menyerang seseorang dan merusak nama baik orang tersebut serta menjurus ke pembunuhan karakter seseoprang.

5.      Persaingan media massa yang tidak sehat menyebabkan media massa mengorbankan idealismenya dengan menyajikan berbagai pembaraitaan yang justru menyerang norma-norma sosial, sehingga amenyebabkan terciptanya perilaku pelanggaran norma sosial bahkan terciptanya perilakau disorder.

6.      Penyebaran pemberitaan pronomedia menyebabkan lunturnya lembaga perkawinan  dan norma seks keluarga di masyarakat, bahakan memicu terbentuknya perilaku penyimpangan seksual di masyarakat.

7.      Berita kekerasan dan teror di media massa telah memicu terbentuknya “ketakautan massa” di masyarakat. Masyharakat selalu tidak aman, tidaka menyenangkan bahakan tidak nyaman menjadi anggota masyarakat tertentu.

8.      Media massa kapitalis telah sukses merubah masyarakat; dari kota sampai ake desa; menjadi masyarakat konsumerisme dan masyarakat mimpi, masyarakat ayang hidup dalam dunia seribu malam tanpa aharus bekerja keras.

9.      Media Massa cenderung menjadi alat provokasi sebuah kekuasaan sehingga efek media massa menindas rakyat, bahakan dalam sekala luas, media massa menjadi alat kolonialisme modern, dengan memihak kepada suatu negara adidaya, dan menjadi genderang perang untuk memerangi negara-negara kecil dan miskin.

 

                              =========== Selamat Belajar ==========

Konsep Diri

Modul                                    

PSIKOLOGI KOMUNIKASI

Oleh Drs. Hasyim Purnama, M.Si

 

Komunikasi Keluarga dalam Membangun Konsep Diri

Menurut Supratiknya (1995: 31) komunikasi adalah adanya dialog dan kerjasama dalam segala hal dan hubungan timbal balik antara anggota keluarga, misalnya antara orang tua dan anaknya.

Menurut Soelaeman dalam Moh Schohib (1998: 17) keluarga adalah sekumpulan orang yang hidup bersama dalam tempat tinggal bersama dan masing-masing anggota merasakan adanya pertautan batin sehingga terjadi saling mempengaruhi dan saling memperhatikan.

Menurut Drs. Abu Ahmadi dalam bukunya Psikologi Sosial, keluarga adalah merupakan kelompok primer yang paling penting di dalam masyarakat. keluarga merupakan kelompok sosial pertama dalam kehidupan manusia dimana ia belajar dan menyatakan diri sebagai manusia sosial di dalam hubungan interaksi dengan kelompoknya. Pada keluarga manusia belajar memperhatikan keinginan-keinginan orang lain, belajar bekerjasama dan saling membantu (2007: 221)

 

 

Komunikasi dalam keluarga merupakan salah satu bentuk komunikasi antar pribadi yang khas. Adapun cirri khas komunikasi antar pribadi yang membedakan dengan komunikasi massa adalah: (1) terjadi secara spontan, (2) tidak mempunyai struktur yang teratur atau diatur, (3) terjadi secara kebetulan, (4) tidak mengejar tujuan yang telah direncanakan terlebih dahulu, (5) dilakukan oleh orang-orang yang identitas keanggotaannya kadang-kadang kurang jelas, (6) bisa terjadi sambil lalu (Alo Liliweri, 1997: 13).

Berikut ini adalah definisi mengenai komunikasi keluarga menurut Sven Whlroos dalam bukunya komunikasi keluarga:

1.   Mau mendengarkan secara aktif

Hal pertama yang harus kita ingat mengenai mendengarkan ialah bahwa mendengarkan itu harus aktif, kalau ingin efektif. Mendengarkan dengan aktif menyiratkan minat yang besar terhadap perasaan dan pendapat pihak lain, dan juga merupakan suatu usaha yang aktif untuk mendengarkan dan memahami pihak lain. Apa saja yang masih belum jelas harus diperjelas melalui pertanyaan-pertanyaan.

Tujuan dari mengajukan pernyataan maupun mendengarkan, harus positif, yaitu: untuk memahami orang lain atau membantu dia memahami dirinya sendiri, untuk mendorong dia agar memikirkan pemecahan persoalannya sendiri, untuk membantu dia mengembangkan kemampuannya sendiri sebagai manusia dan untuk memperbaiki kemampuan kita sendiri dalam mendengarkan (Sven Whlroos, 1999: 218).

2.   Komunikasi yang positif dan spesifik

Yang dimaksud dengan komunikasi positif adalah tiap komunikasi yang memperlihatkan perhatian terhadap orang lain sebagai manusia, yang mendorong perkembangan dan potensinya, yang cenderung untuk memberikan keberanian serta kepercayaan diri kepadanya. Komunikasi semacam ini akan bermanfaat bagi gambaran diri anggota keluarga terutama pada anak-anak. Selain komunikasi yang positif penting juga komunikasi yang jelas dan spesifik hal ini penting sekali dalam memecahkan persoalan. Banyak sekali persoalan dan kesalahpahaman dapat timbul dari komunikasi yang kurang jelas dan samar-samar. Untuk menghinari hal ini yaitu dengan cara menggunakan kata-kata yang tepat dan istilah-istilah yang didefinisikan dengan jelas menjadi penting sekali bila kita mengemukakan harapan dan keinginan dan apabila hal itu tidak dilakukan maka anggota keluarga yang lain akan menyalahartikan maksud kita yang dapat mengakibatkan pertengakaran atau konflik (Sven Whlroos, 1999: 34,45).

3.   Memberikan contoh yang positif

Bila tindakan seseorang mengkomunikasikan pesan yang sama seperti kata-katanya maka tidak ada masalah. Akan tetapi jika pesan tersebut bertentangan, maka akibatnya hampir selalu menimbulkan masalah. Orang tua harus memberikan contoh yang positif kepada anak dibandingkan hanya berbicara karena tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata, komunikasi non verbal lebih kuat daripada komunikasi verbal. (Sven Whlroos, 1999: 9).

4.   Memiliki tengang rasa

Tengang rasa adalah sikap yang sangat penting dalam komunikasi antar pribadi terlebih lagi dalam sebuah keluarga. Tengang rasa dapat terjadi apabila terdapat pendekatan pada orang lain melalui komunikasi yang jujur dan terbuka, tetapi tetap memperlihatkan rasa hormat terhadap perasaan-perasaan orang lain dan menjaga jangan sampai melukai hatinya secara tidak perlu.

Jadi, tenggang rasa berarti lebih dari hanya sekedar sopan santun (mendengar tanpa menyela, tidak melukai perasaan orang lain dan bersikap diplomatis) sehingga rasa mengandung kejujuran dan menyiratkan kepercayaan. Seseorang yang tidak berterus terang tentu bisa kelihatan sopan, tetapi ia tidak bisa dikatakan tenggang rasa karena terkandung sikap tidak menghormati perasaan orang lain dalam hubungan kekeluargaan, hal itu menyiratkan ketidakmauan untuk menjalin hubungan yang akrab dan harmonis (Sven Whlroos, 1999: 177-178).

Selanjutnya Mary Anne mengemukakan tentang pola komunikasi keluarga atau family communication patterns theory (FCPT) bahwaFCPT is based on the assumption that creating shared social reality is a basic function of family communication.

Dar pendapat di atas dapat diterjemahkan bahwa pola komunikasi keluarga didasarkan pada asumsi bahwa menciptakan bersama realitas sosial adalah fungsi dasar komunikasi keluarga.

Sehubungan dengan pendapat di atas dapat penulis kemukakan bahwa dalam komunikasi keluarga terdapat  dua orienasi perilaku komunikasi, yaitu  percakapan orientasi dan orientasi sesuai, yang pada gilirannya mempengaruhi hubungan keluarga dan hasil. Percakapan orientasi mengacu pada komunikasi yang sering dan tidak terkendali antara orang tua dan anak-anak dengan tujuan menemukan, makna simbol dan benda-benda yang merupakan lingkungan sosial. Hal ini terkait dengan hubungan yang hangat dan mendukung ditandai dengan saling menghormati dan perhatian untuk satu sama lain. orientasi kesesuaian, berbeda, mengacu pada komunikasi yang terbatas antara orang tua dan anak-anak di mana orang tua mendefinisikan realitas sosial bagi keluarga, hal ini terkait dengan orang tua yang otoriter dan kurang perhatian untuk anak-anak dan perasaan.

Di sisi lain  Mary Anne mengemukakan bahwa bahwa secara Theoretically orthogonal or independent, kedua orientasi tersebut  mendefinisikan empat jenis keluarga, yaitu :

a.                  Consensual families are high on both conversation and conformity orientation.

b.                  Pluralistic families, emphasize conversation orientation over conformity orientation.

c.                   Protective families emphasize conformity over conversation orientation.

d.                   Laissezfaire families are low on both conformity and conversation orientation.

 

Dari tipe tipe tersebut dapat penulsi terjemahkan secara bebas adalah sebagai berikut:

a.                  Keluarga konsensual tinggi pada kedua percakapan dan orientasi sesuai.

b.                  Keluarga Pluralis, menekankan orientasi percakapan di atas orientasi sesuai.

c.                   Keluarga pelindung menekankan sesuai atas orientasi percakapan.

d.                  Keluarga Laissezfaire rendah pada kedua kesesuaian dan orientasi percakapan.

Dari keempat tipe tersebut dapat penulis uraikan bahwa pertama, Keluarga konsensual tinggi pada kedua percakapan dan orientasi sesuai. Komunikasi mereka ditandai dengan ketegangan antara eksplorasi terbuka, di satu sisi, dan tekanan untuk setuju dan melestarikan hirarki yang ada dalam keluarga, di sisi lain. Keluarga menyelesaikan ketegangan dengan orang tua mendengarkan anak-anak mereka sekaligus membujuk mereka untuk mengadopsi sistem kepercayaan orang tua ‘. Ini keluarga yang berfungsi dengan baik dan memiliki hasil yang superior untuk semua anggota keluarga.

Kedua, Keluarga Pluralis, menekankan orientasi percakapan di atas orientasi sesuai. komunikasi mereka ditandai dengan interaksi terbuka dan tak terbatas yang melibatkan seluruh anggota keluarga. Meskipun orang tua terbuka mengenai nilai-nilai dan keyakinan mereka dalam keluarga, tidak bertujuan untuk mengendalikan anak-anak mereka dan menerima pendapat childrent mereka berbeda. Anak-anak dari keluarga belajar untuk menjadi mandiri dan otonom dan berkomunikasi persuasif, dan mereka umumnya puas dengan hubungan keluarga mereka.

Ketiga, Keluarga pelindung menekankan sesuai atas orientasi percakapan. komunikasi mereka ditandai oleh otoritas orangtua dan kepatuhan anak. Orang tua dalam keluarga memutuskan untuk anak-anak mereka dan melihat sedikit nilai dalam menjelaskan alasan mereka kepada mereka, meskipun mereka jelas sate aturan dan mengharapkan anak-anak mereka untuk mengikuti mereka. Anak-anak di pelindung, ada hal-hal kecil keluar, dan anak-anak cenderung tidak mempercayai kemampuan pengambilan keputusan sendiri.

 Keempat, Keluarga Laissezfaire rendah pada kedua kesesuaian dan orientasi percakapan. Komunikasi mereka ditandai dengan jarang dan biasanya melibatkan un. interaksi. Anggota keluarga laissezfaire secara emosional terpisah dari satu sama lain dan memiliki sedikit minat dalam pikiran dan perasaan orang lain. Anak-anak dari keluarga belajar bahwa ada sedikit nilai dalam percakapan keluarga dan bahwa mereka harus membuat keputusan sendiri. Karena mereka menerima hanya sedikit bimbingan perilaku dari orang tua mereka, mereka mempertanyakan kemampuan mengambil keputusan dan lebih rentan terhadap pengaruh eksternal dari rekan dan media.

Selanjutntya teori efek afektif dikemukakan Mary Anne bahwa One example of a family communication theory addressing a relatively narrow phenomenon in family communication while simultaneously being grounded in and testing a meta theoritical frame work is affective exchange theory (AET). AET is different from most other theories of family communication, which typically investigate how humans communicate without explicitly considering, the roots of human communication, because it explicitly makes and test the assumption that human communication is shaped by evolutionary processes. By arguing that humans ability to experience and express affections was selected for because it created significant benefits in term of survival and reproduction, AET connects to the large and powerful explanatory framework of human behavioral that evolutionary theory provides

Pendapat di atas dapat penulis terjemahkan bahwa salah satu contoh dari teori komunikasi keluarga menyikapi fenomena yang relatif sempit dalam komunikasi keluarga sekaligus yang didasarkan pada dan pengujian kerangka kerja meta teoritis adalah teori pertukaran afektif (AET). AET berbeda dari teori lain sebagian besar komunikasi keluarga, yang biasanya menyelidiki bagaimana manusia berkomunikasi tanpa secara eksplisit mempertimbangkan, akar komunikasi manusia, karena secara eksplisit membuat dan menguji asumsi bahwa komunikasi manusia dibentuk oleh proses evolusi. Dengan alasan bahwa kemampuan manusia untuk mengalami dan mengekspresikan kasih sayang dipilih untuk karena diciptakan manfaat yang signifikan dalam hal kelangsungan hidup dan reproduksi, AET terhubung ke kerangka jelas besar dan kuat dari perilaku manusia yang teori evolusi menyediakan.

Dari uraian di atas dapat penulis kemukakan bahwa teori evolusi sangat spesifik dan unik tentang komunikasi keluarga. Sebagai contoh, teori evolusi akan menunjukkan bahwa fungsi kasih sayang orang tua untuk akibatnya, ayah harus lebih sayang dengan anak-anak yang merambat gen ayah biologis sebagai lawan anak-anak tiri dan hetero seksual sebagai lawan anak biseksual atau homoseksual, misalnya. Kedua prediksi tersebut didukung.

Selain itu, banyaak hasil penelitian  terutama dalam konteks hubungan anak ayah, bukan hanya memberikan informasi penting tentang hubungan keluarga yang diteliti, tetapi juga menunjukkan pentingnya untuk kasih sayang dalam hubungan interpersonal tidak romantis. Selain itu, dengan melihat bagaimana perubahan ayah anak komunikasi dalam generasi berikutnya. Di sisi lain hasil penelitian juga mampu menunjukkan pengaruh berbarengan kekuatan evolusioner dan kekuatan budaya, dengan ini selanjutnya menunjukkan bahwa gen dan budaya kedua memainkan peran penting dalam perilaku keluarga.

Komunikasi dalam keluarga aecara alamiah menggunakan komunikasi interpersonal. Oleh karena itu penulis akan menguraikan tentang konsep komunikasi interpersiolan sebagaai berikut.

Kualitas Komunikasi

Pengertian kualitas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007: 603) adalah, 1. Tingkat baik buruknya sesuatu; kadar, 2. Derajat atau taraf (kepandaian, kecakapan, dsb; mutu).

Menurut Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss dalam buku Human Communication yang diterjemahkan Dr. Deddy Mulyana, M. A., (2005: 122) mengemukakan komunikasi yang berkualitas itu adalah sebagai berikut:

Komunikasi yang berkualitas tinggi hanya melibatkan dua orang, kualitas merupakan hal pokok dalam hubungan ini. Dalam membedakan hubungan antar pribadi yaitu yang berkualitas tinggi dari hubungan antar pribadi yang berkualitas rendah – miller dan Steinberg dalam Sylvia Moss merupakan orang-orang yang pertama kali memperkenalkan beberapa konsep penting yaitu:

1)   Dalam komunikasi berkualitas tinggi, informasi tentang orang lain lebih bersifat psikologis daripada bersifat cultural dan sosiologis. Kebanyakan informasi cultural dan sosiologis mudah diperoleh. Ini mencakup gender pihak lain, usianya, pekerjaannya, keanggotaannya dalam suatu kelompok. Dengan kata lain, informasi yang dapat dinilai oleh kebanyakan orang, bahkan tanpa mengenali orang yang dinilai itu.

2)   Karakteristik komunikasi berkualitas tinggi adalah bahwa aturan aturan dalam hubungan ini lebih banyak dikembangkan oleh kedua orang yang terlibat di dalamnya daripada diatur oleh tradisi.

3)   Peranan dalam komunikasi antar pribadi pada pokoknya lebih ditentukan oleh karakter pribadi daripada oleh situasi

4)   Komunikasi berkualitas tinggi lebih menekankan pilihan perseorangan daripada pilihan kelompok. Kita akan melihat pentingnya pilihan perseorangan dan informasi psikologis yaitu pengetahuan mengenai sikap dan kepercayaan pribadi, perilaku-perilaku yang khas dan sebagainya – bersamaan dengan pembahasan mengenai penyingkapan diri, satu dari beberapa variable yang mempengaruhi kualitas komunikasi.  

 

Kualitas komunikasi keluarga menurut De Vito (Alo Liliweri, 1997: 13) adalah sebagai berikut:

1)   Keterbukaan

     Adalah kemampuan untuk membuka atau mengungkapkan pikiran, perasaan, dan reaksi kita kepada orang lain. Kita harus melihat bahwa diri kita dan pembukaan diri yang akan kita lakukan tersebut diterima orang lain, kalau kita sendiri menolak diri kita (self rejectimg), maka pembukaan diri kita akan kita rasakan terlalau riskan. Selain itu, demi penerimaan diri kita maka kita harus bersikap tulus, jujur, dan authentic dalam membuka diri.

     Pada hakekatnya setiap manusia suka berkomunikasi dengan manusia lain, karena itu tiap-tiap orang selalau berusaha agar mereka lebih dekat satu sama lain. Faktor kedekatan atau proximity bisa menyatakan dua orang yang mempunyai hubungan yang erat. Kedekatan antar pribadi mengakibatkan seseorang bisa dan mampu menyatakan pendapat-pendapatnya dengan bebas dan terbuka.

     Keterbukaan di sini adalah bersikap terbuka dan jujur mengenai perasaan/pemikiran masing-masing, tanpa adanya rasa takut dan khawatir untuk mengungkapkannya.

2)   Empati

     Empati merupakan kemudahan dalam melakukan komunikasi yang baik. Komunikasi yang baik antara orang tua dengan anak akan menjadikan anak merasa dihargai sehingga anak akan merasa bebas mengungkapkan perasaan serta keinginannya. Hal ini dapat dijalankan dengan membuat komunikasi dalam keluarga sportif dan penuh kejujuran, setiap pernyataan yang di utarakan realistis, masuk akal dan tidak dibuat-buat, selain itu komunikasi di dalam keluarga harus diusahakan jelas dan spesifik, setiap anggota keluarga benar-benar mengenal perilaku masing-masing, dan semua elemen keluarga harus dapat belajar cara tidak menyetuji tanpa ada perdebatan yang destruktif.

3)   Dukungan

     Untuk membangun dan melestarikan hubungan dengan sesama anggota keluarga, kita harus menerima diri dan menerima orang lain. Semakin besar penerimaan diri kita dan semakin besar penerimaan kita terhadap orang lain, maka semakin mudah pula kita melestarikan dan memperdalam hubungan kita dengan orang lain tersebut.

Ada beberapa prinsip yang dapat digunakan dalam mendukung komunikasi keluarga, sehubungan komunikasi antar orang tua dengan anak-anak.

a)         Bersedia memberikan kesempatan kepada anggota keluarga yang lain sehingga pihak lain berbicara.

b)                     Mendengarkan secara aktif apa yang dibicarakan pasangan bicara.

c)         Mengajari anak-anak untuk mendengarkan.

d)        Menyelesaikan konflik secara dini sehingga terjalin komunikasi yang baik.

4)                  Perasaan positif

Bila kita berpikir positif tentang diri kita, maka kita pun akan berpikir positif tentang orang lain, sebaliknya bila kita menolak diri kita, maka kitapun akan menolak orang lain. Hal-hal yang kita sembunyikan tentang diri kita, seringkali adalah juga hal-hal yang tidak kita sukai pada orang lain. Bila kita memahami dan menerima perasaan-perasaaan kita, maka biasanya kitapun akan lebih mudah menerima perasaan-perasaan sama yang ditunjukkan orang lain.

5)                  Kesamaan

Sebuah komunikasi akan dikatakan sukses kalau komunikasi tersebut menghasilkan sesuatu yang diharapkan yakni kesamaan pemahaman. perselisihan dan perbedaan paham akan menjadi sumber persoalan bila tidak ditangani dengan bijaksana, sehingga memerlukan usaha-usaha komunikatif antara anggota keluarga. Dalam usaha untuk menyelesaikan persoalan maka pemikiran harus dipusatkan dan ditujukan ke arah pemecahan persoalan, supaya tidak menyimpang dan mencari kekurangan-kekurangan dan kesalahan-kesalahan masing-masing. Oleh karena itu sebuah komunikasi harus dilakukan secara konstruktif dan dengan dasar kasih sayang.

Keakraban dan kedekatan antara orang tua dengan anak-anaknya membuat komunikasi dapat berjalan secara efektif dalam meletakkan dasar-dasar untuk berhubungan secara akrab dan dekat. Kemampuan orang tua dalam melakukan komunikasi yang berkesinambungan.

 

KONSEP DIRI

Masalah-masalah rumit yang dialami manusia, seringkali dan bahkan hamper semua sebenarnya berasal dari dalam diri. Mereka tanpa sadar menciptakan mata rantai masalah yang berakar dari problem konsep diri. Dengan kemampuan berpikir dan menilai, manusia malah suka menilai yang macam-macam terhadap diri sendiri maupun sesuatu atau orang lain – dan bahkan meyakini persepsinya yang belum tentu obyektif. Dari situlah muncul problem seperti inferioritas, kurang percaya diri, dan hobi mengkritik diri sendiri. Konsep diri dapat didefinisikan secara umum sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang terhadap dirinya. Definisi yang lebih rinci lagi adalah sebagai berikut :

a. Konsep diri adalah keyakinan yang dimiliki individu tentang atribut (ciri-ciri sifat ) yang dimiliki (Brehm & Kassin, 1993).

b. Atau juga diartikan sebagai pengetahuan dan keyakinan yang dimilki individu tentang karakteristik dan ciri-ciri pribadinya (Worchel, 2000).

c. Definisi lain menyebutkan bahwa Konsep diri merupakan semua perasaan dan pemikiran seseorang mengenai dirinya sendiri. Hal ini meliputi kemampuan, karakter diri, sikap, tujuan hidup, kebutuhan dan penampilan diri

d. Those physical, social and psychological perceptions of ourselves that we have derived from experiences and our interaction with others (William D Brooks : 1974)

Seseorang dikatakan mempunyai konsep diri negatif jika ia meyakini dan memandang bahwa dirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa, tidak kompeten, gagal, malang, tidak menarik, tidak disukai dan kehilangan daya tarik terhadap hidup. Orang dengan konsep diri negatif akan cenderung bersikap pesimistik terhadap kehidupan dan kesempatan yang dihadapinya. Ia tidak melihat tantangan sebagai kesempatan, namun lebih sebagai halangan.

Orang dengan konsep diri negatif, akan mudah menyerah sebelum berperang dan jika gagal, akan ada dua pihak yang disalahkan, entah itu menyalahkan diri sendiri (secara negatif) atau menyalahkan orang lain. Sebaliknya seseorang dengan konsep diri yang positif akan terlihat lebih optimis, penuh percaya diri dan selalu bersikap positif terhadap segala sesuatu, juga terhadap kegagalan yang dialaminya. Kegagalan bukan dipandang sebagai kematian, namun lebih menjadikannya sebagai penemuan dan pelajaran berharga untuk melangkah ke depan. Orang dengan konsep diri yang positif akan mampu menghargai dirinya dan melihat hal-hal yang positif yang dapat dilakukan demi keberhasilan di masa yang akan datang. mAda dua komponen dalam konsep diri yaitu komponen kognitif dan komponen afektif. Komponen kognitif disebut sebagai citra diri (self image) sedangkan komponen afektif adalah harga diri (self esteem). Konsep diri terbentuk akibat pengalaman interaksi dengan orang lain yaitu dengan menemukan apa yang orang lain pikirkan tentang diri individu tersebut. Ini yang disebut dengan penaksiran yang direfleksikan dan ini merupakan hal penting dalam pembentukan konsep diri. Penaksiran diri (reflected apprasial) menunjuk pada ide bahwa manusia menaksir dirinya sendiri dengan mereflksikan atau bercermin dari bagaimana orang menaksir dirinya “looking glass self”. Jadi hakekat konsep diri sesungguhnya merupakan membayangkan apa yang orang lain pikirkan tentang diri sendiri.

 

Proses Pembentukan Konsep Diri

Konsep diri terbentuk melalui proses belajar sejak masa pertumbuhan seorang manusia dari kecil hingga dewasa. Lingkungan, pengalaman dan pola asuh orang tua turut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap konsep diri yang terbentuk. Sikap atau respon orang tua dan lingkungan akan menjadi bahan informasi bagi anak untuk menilai siapa dirinya. Oleh sebab itu, seringkali anak-anak yang tumbuh dan dibesarkan dalam pola asuh yang keliru dan negatif, atau pun lingkungan yang kurang mendukung, cenderung mempunyai konsep diri yang negatif. Hal ini disebabkan sikap orang tua yang misalnya : suka memukul, mengabaikan, kurang memperhatikan, melecehkan, menghina, bersikap tidak adil, tidak pernah memuji, suka marah marah, dsb – dianggap sebagai hukuman akibat kekurangan, kesalahan atau pun kebodohan dirinya. Jadi anak menilai dirinya berdasarkan apa yang dia alami dan dapatkan dari lingkungan. Jika lingkungan memberikan sikap yang baik dan positif, maka anak akan merasa dirinya cukup berharga sehingga tumbuhlah konsep diri yang positif. Konsep diri ini mempunyai sifat yang dinamis, artinya tidak luput dari perubahan. Ada aspek-aspek yang bisa bertahan dalam jangka waktu tertentu, namun ada pula yang mudah sekali berubah sesuai dengan situasi sesaat. Misalnya, seorang merasa dirinya pandai dan selalu berhasil mendapatkan nilai baik, namun suatu ketika dia mendapat angka merah. Bisa saja saat itu ia jadi merasa “bodoh”, namun karena dasar keyakinannya yang positif, ia berusaha memperbaiki nilai. Dalam konsep diri ini terdapat beberapa unsur antara lain:

1. Penilaian diri merupakan pandangan diri terhadap:

• Pengendalian keinginan dan dorongan-dorongan dalam diri. Bagaimana kita mengetahui dan mengendalikan dorongan, kebutuhan dan perasaanperasaan dalam diri kita.

• Suasana hati yang sedang kita hayati seperti bahagia, sedih atau cemas. Keadaan ini akan mempengaruhi konsep diri kita positif atau negatif.

• Bayangan subyektif terhadap kondisi tubuh kita. Konsep diri yang positif akan dimiliki kalau merasa puas (menerima) keadaan fisik diri sendiri.

Sebaliknya, kalau merasa tidak puas dan menilai buruk keadaan fisik sendiri maka konsep diri juga negatif atau akan jadi memiliki perasaan rendah diri.

2. Penilaian sosial merupakan evaluasi terhadap bagaimana individu menerima penilaian lingkungan sosial pada diri nya. Penilaian sosial terhadap diri yang cerdas, supel akan mampu meningkatkan konsep diri dan kepercayaan diri. Adapun pandangan lingkungan pada individu seperti si gendut, si bodoh atau si nakal akan menyebabkan individu memiliki konsep diri yang buruk terhadap dirinya.

3. Konsep lain yang terdapat dalam pengertian konsep diri adalah self image atau citra diri, yaitu merupakan gambaran:

• Siapa saya, yaitu bagaimana kita menilai keadaan pribadi seperti tingkat kecerdasan, status sosial ekonomi keluarga atau peran lingkungan sosial kita.

• Saya ingin jadi apa, kita memiliki harapan-harapan dan cita-cita ideal yang ingin dicapai yang cenderung tidak realistis. Bayangbayang kita mengenai ingin jadi apa nantinya, tanpa disadari sangat  dipengaruhi oleh tokoh-tokoh ideal yang yang menjadi idola, baik itu ada di lingkungan kita atau tokoh fantasi kita.

• Bagaimana orang lain memandang saya, pertanyaan ini menunjukkan pada perasaan keberartian diri kita bagi lingkungan sosial maupun bagi diri kita sendiri. Konsep diri yang terbentuk pada diri juga akan menentukan penghargaan yang berikan pada diri. Penghargaan terhadap diri atau yang lebih dikenal dengan self esteem ini meliputi penghargaan terhadap diri sebagai manusia yang memiliki tempat di lingkungan sosial. Penghargaan ini akan mempengaruhi dalam berinteraksi dengan orang lain.

 

Faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri

Berbagai faktor dapat mempengaruhi proses pembentukan konsep diri seseorang. Secara umum konsep diri dipengaruhi oleh orang lain dan kelompok rujukan. Manusia mengenal dirinya secara kodrati didahului oleh pengenalan terhadap orang lain terlebih dahulu, namun tidak semua orang mempunyai pengaruh yang sama. Yang paling berpengaruh adalah orang lain yang paling dekat dengan diri kita yang terbagi 3 golongan. Golongan pertama disebut sebagai significant others yaitu orang tua dan saudara). Golongan ke dua disebut sebagai affective others yaitu orang lain yang memiliki ikatan emosional seperti sahabat karib. Golongan ke tiga disebut sebagai generalized otheri yaitu keseluruhan dari orang-orang yang dianggap memberikan penilaian terhadap diri sendiri. Sementara kelompok rujukan mempengaruhi konsep diri karena ikatan-ikatan norma-norma yang dilekatkan pada diri manusia. Sehingga konsep diri terbentuk karena penyesuain diri dengan norma-norma yang berlaku dalam kelompok tersebut. Namun secara detail konsep diri dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti tersebut di bawah ini :

 

Pola asuh orang tua

Pola asuh orang tua seperti sudah diuraikan di atas turut menjadi factor signifikan dalam mempengaruhi konsep diri yang terbentuk. Sikap positif orang tua yang terbaca oleh anak, akan menumbuhkan konsep dan pemikiran yang positif serta sikap menghargai diri sendiri. Sikap negatif orang tua akan mengundang pertanyaan pada anak, dan menimbulkan asumsi bahwa dirinya tidak cukup berharga untuk dikasihi, untuk disayangi dan dihargai; dan semua itu akibat kekurangan yang ada padanya sehingga orang tua tidak saying.

 

Kegagalan

Kegagalan yang terus menerus dialami seringkali menimbulkan pertanyaan kepada diri sendiri dan berakhir dengan kesimpulan bahwa semua penyebabnya terletak pada kelemahan diri. Kegagalan membuat orang merasa dirinya tidak berguna.

 

Depresi

Orang yang sedang mengalami depresi akan mempunyai pemikiran yang cenderung negatif dalam memandang dan merespon segala sesuatunya, termasuk menilai diri sendiri. Segala situasi atau stimulus yang netral akan dipersepsi secara negatif. Misalnya, tidak diundang ke sebuah pesta, maka berpikir bahwa karena saya “miskin” maka saya tidak pantas diundang. Orang yang depresi sulit melihat apakah dirinya mampu survive menjalani kehidupan selanjutnya. Orang yang depresi akan menjadi super sensitif dan cenderung mudah tersinggung atau “termakan” ucapan orang.

 

Kritik internal

Terkadang, mengkritik diri sendiri memang dibutuhkan untuk menyadarkan seseorang akan perbuatan yang telah dilakukan. Kritik terhadap diri sendiri sering berfungsi menjadi regulator atau rambu-rambu dalam bertindak dan berperilaku agar keberadaan kita diterima oleh masyarakat dan dapat beradaptasi dengan baik.

 

Merubah Konsep Diri

 

Seringkali diri sendirilah yang menyebabkan persoalan bertambah rumit dengan berpikir yang tidak-tidak terhadap suatu keadaan atau terhadap diri sendiri. Namun, dengan sifatnya yang dinamis, konsep diri dapat mengalami perubahan ke arah yang lebih positif. Langkah-langkah yang perlu diambil untuk memiliki konsep diri yang positif :

 

Bersikap obyektif dalam mengenali diri sendiri

 

Jangan abaikan pengalaman positif atau pun keberhasilan sekecil apapun yang pernah dicapai. Lihatlah talenta, bakat dan potensi diri dan carilah cara dan kesempatan untuk mengembangkannya. Janganlah terlalu berharap bahwa Anda dapat membahagiakan semua orang atau melakukan segala sesuatu sekaligus. You can’t be all things to all people, you can’t do all things at once, you just do the best you could in every way….

 

Hargailah diri sendiri

Tidak ada orang lain yang lebih menghargai diri kita selain diri sendiri. Jikalau kita tidak bisa menghargai diri sendiri, tidak dapat melihat kebaikan yang ada pada diri sendiri, tidak mampu memandang hal-hal baik dan positif terhadap diri, bagaimana kita bisa menghargai orang lain dan melihat hal-hal baik yang ada dalam diri orang lain secara positif? Jika kita tidak bisa menghargai orang lain, bagaimana orang lain bisa menghargai diri kita ?

 

Jangan memusuhi diri sendiri

Peperangan terbesar dan paling melelahkan adalah peperangan yang terjadi dalam diri sendiri. Sikap menyalahkan diri sendiri secara berlebihan merupakan pertanda bahwa ada permusuhan dan peperangan antara harapan ideal dengan kenyataan diri sejati (real self). Akibatnya, akan timbul kelelahan mental dan rasa frustrasi yang dalam serta makin lemah dan negative konsep dirinya

 

Berpikir positif dan rasional

We are what we think. All that we are arises with our thoughts. With our thoughts, we make the world (The Buddha). Jadi, semua itu banyak tergantung pada cara kita memandang segala sesuatu, baik itu persoalan maupun terhadap seseorang. Jadi, kendalikan pikiran kita jika pikiran itu mulai menyesatkan jiwa dan raga.

 

B. PERBANDINGAN SOSIAL (SOCIAL COMPARISON)

Masing-masing orang memiliki konsep diri yang berbeda-beda sehingga menyebakan dirinya melakukan perbandingan diri dengan orang lain. Gejala ini disebut sebagai perbandingan sosial. Perbandingan sosial terjadi manakala orang merasa tidak pasti mengenai kemampuan pendapatnya maka meraka akan mengevaluasi diri mereka melalui perbandingan orang lain yang sama. Perbandingan sosial merupakan proses otomatis dan spontan terjadi. Umumnya motif yang dilakukan manusia dalam melakukan perbandingan sosial adalah untuk mengevaluasi diri sendiri, memperbaiki diri sendiri dan meningkatkan diri sendiri. Manusia dalam melakukan perbandingan sosial berlaku dalil umum sebagai mberikut :

Persamaan (similarity hypothesis) : artinya manusia melakukan perbandingan dengan orang-orang yang sama dengan dirinya (lateral  comparison) atau yang sedikit lebih baik dan umumnya manusia tersebut  berjuang untuk menjadi lebih baik.

Dikaitkan dengam atribut (related atribut hypothesis) : artinya manusia melakukan perbandingan dengan melihat usia, etnis dan jenis kelamin yang sama

Downward comparison : manusia kadang membandingkan dirinya dengan orang yang lebih buruk dari dirinya. Umumnya ini dilakukan untuk mencari perasaan yang lebih baik atau mengabsahkan diri sendiri (self validating). Disini muncul dalil bahwa manusia kadang tidak objektif dalam melakukan perbandingan sosial

C. HARGA DIRI (SELF ESTEEM)

Harga diri merupakan komponen evaluatif dari konsep diri yang terdiri dari evaluasi positif dan negatif tentang diri sendiri. Harga diri itu hal menyukai diri. Ini bukan keangkuhan atau kesombongan, tapi percaya akan diri dan tindakan. Harga diri itu cara merasakan diri sebagai orang dan menyadari bahwa ada yang bisa dilakukannya dengan baik – dengan kata lain, tentang jati diri dan perbuatan. Sebagian dari harga diri adalah perasaan mendapat tempat di dunia ini dan merupakan bagian keluarga yang mengistimewakannya, mengetahui tentang asalusulnya dan mempunyai kepercayaan diri untuk masa depan. Mengapa harga diri itu penting? Harga diri menjadi penting karena :

• Di dalam setiap budaya ada taraf dasar harga diri yang diperlukan.

• Harga diri membantu orang merasa mampu mengembangkan keterampilannya dan berguna bagi masarakat.

• Penelitian menyatakan bahwa orang perlu akan harga diri yang baik guna merasa yakin berbuat sesuatu dan mengunakan kemampuan dan bakatnya sebaik-baiknya.

 

Dimensi Etika Komunikasi

Modul : FILSAFAT KOMUNIKASI

Drs. Hasyim Purnama, M.Si

 

 

DIMENSI-DIMENSI ETIKA KOMUNIKASI

 

  1. Hak berkomunikasi

Hak uantuk berkomunikasi di ruang public merupakan hak yang paling dasar bagi kehidupan manusia. Hak untuk berkomunikasi dan berserikat dijamin Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonensia 1945, Undang-undang pokok pers, Unndang-undang Penyiaran, dan Undang-undang Keterbukaan Informasi publik.

Menurut Boris Libois ( 2002:19), mengemukakan bahwa hak berkomunikasi di ruang public tidak bias dilepaskan dari otonomi demokrasi untuk berekspresi. Jadi, untuk menjamin otonomi demokrasi  bias berjalan, apabila hak untuk berkomunikasi di publik dihormati. Etika komunikasi merupakan bagian dari upaya menjamin otonomi demokrasi tersebut.

Etika komunikasi tidak hanya berhenti pada masalaha actor komunikasi  ( wartawan, editor, agen iklan, dan pengelola rumah produksi), ia tidak dibatasi hanya pada deontologi jurnalisme. Etika komunikasi berhubungan dengan praktek institusi, hokum, komunitas, strukktur social, politik, dan ekonomi. Maka, aspek sarana atau etika strategi dalam bentuk regulasi sangat perlu. Etika bukan untuk membatasi manuver praktek jurnalistik, justru membantu agar media bisa tetap memiliki kredibilitas dan kepercayaan dari masyarakat sebagai pelayanana informasi publik.

Menurut Haryatmoko ( 2007:44) mengatakan bahwa etika komunikasi memiliki tiga dimensi yang terkait satu dengan yang lain, yaitu tujuan, sarana, dan aksi mkomunikasi itu sendiri. Jika dibuat Model sebagai berikut :

 

                                                       

 

 

 

 

 

 

 

MODEL TIGA DIMENSI ETIKA KOMUNIKASI

-Nilai-nilai demokrasi

  - Hak untuk berekspresi

                                                -Hak publik akan informasi yang benar

                                                     

TUJUAN

 

 

 

 

Meta etika

 

                                                 

Etika

Komunikasi

 

 

 

                                   

    Etika Strategi                              Deontologi

 

 

                    SARANA                                                                  AKSI

-Tatanan hukum dan Institusi                         -Kesadaran Moral atau

-Hubungan hubunan kekuasaan                        nurani akator komunikasi     

-Peran asosiasi, Lembaga Konsumen,            -Deontologi Jurnalistik

 Lembaga Komisi pengawas

 

 

  1. Tiga dimensi etika komunikasi

 

    1. Dimensi yang langsung dengan actor perilaku actor komunikasi, yaitu Aksi komunikasi. Perilaku actor komunikasi hanya menejadi salah satu demensi etika komunikasi, yaitu bagian dari aksi komunikasi. Aspek etisnya ditunjukana pada kehendak baik untuk bertanggungjawab. Kehendak baik ini diungkaapkan dalama etika profesi dengan maksud agar norma inten yang mengatur profesi. Aturan semacam ini terdapat dalam deontologi jurnalistik, yaitu :

1). Hormat dan perlindungan atas haak dan warga negara akan informasi dan sarana-sarana yang perlu untuk mendapatkannya. Masuk dalama kategori ini adalah perlindungan atas sumber berita; pemberitaan informasi yang benar dan tepat, jujur, dan lengkap; pembedaan antara fakta dan komentar, informasi dan opini; sedangkan mengenai metode untuk mendapaptkan informasi harus jujur dan pantas ( harus ditolak jika ternyata hasil curian, menyembunyikan, menyalahgunakan kepercayaan, dengan menyamar, pelanggaran terhadap rahasia profesi atau instruksi yang harus dirahasiakan).

2). Hormat dan perlindungan atas hak individual lain dari warga Negara. Termasuk dalam kategori ini adalah hak akan martabat dan kehormatan; hak akan kesehatan fisik dan mental; hak konsumen dan hak untuk berekspresio dalam media; serta hak jawab. Selain itu, harus mendapatkan jamainan juga, yaitu hak akan privacy, praduga tak bersalah, hak akan reputasi, hak akan citra yang baik, hak bersuara, dan hak akan rahasia komunikasi. Jadi hak informasi tidak visa memberi pembenaran pada upaya yang akan merugikan pribadi seseorang. Setiap orang amempunyai hak untuk menerima atau menolak penyebaran identitasnya melalui media.

3). Ajakan untuk menjaga harmoni masyarakat.unsur ketiga deontologi jurnalaisme ini melarang semua bentuk  provokasi atau dorongan yang akan membangkitkan kebencian atau ajakan pada apembangkangan sipil.

    1. Regulasi melalui undang-undang dan hokum yangv memadai ( sarana). Dimensi sarana ini memfokuskan pada system media dan prinsip dasar pengorgfanisasian praktek penyelenggara informasi, termasuk yang amendasari hubungan produk informasi.Termasuk dimensi  sarana ini meliputi :

1). Semua bentuk regulasi oleh penguasa pub;lik ( tatanan hokum dan institusi). Azas kesamaah dan masalah siapa diuntungkan atau dirugikan oleh hokum atau  institusi tertentu;

2). Struktur social  yang direkayasa secara politik menganut prinsip timbale balik ( hubungan kekuasaan yang mempengaruhi produksi informamsi) termasuk determinisme  ekonomi dan teknologi. Prinsip Habermas “ masing-masing  pihak sepakat mengkoordinasikan tindakan mereka untuk mencapai tujuan masing-masing” ( Vo. I, 1981: 117).

     

    1. Dimensi Tujuan, menyangkut  nilai demokrasi , terutama akebebasan untuk berekspresi, kebebasan pers, dan hak informasi yang benar. Dalam negara demokrasi, para kator komunikasi, peneliti, asosiasi, warga negara,  dan politisi harus mempunyai komitmen terhadap nilai kebebasan tersebut. Negara harus menjamin serta memfasilitasi terwujudnya nilai tersebut.

Dimensi tujuan terkait langsung dengan meta-etika. Meta etika merefleksikan masalah status, rasionalitas, dan legitimasi aktor komunikasi (wartawan), struktur informasi ( media elektronik dan cetak). Artinya bila ada regulasi yang semakin sempit membatasi lingkup kebebasan harus ditolak, tetapi jika sistem media tidak peka, mengabaikan atgau menghambat pembangunan institusi yang lebih adil juga perlu dipertanyakan. Dewasa ini, banyak ketidakpuasan terhadap media karena kualitas pemberitaan, batas praktek profesi dalam hal informasi, pornografi, kriminalitas, infortaiment, kecenderungan pada yang spektakuler ataau sensasional, dan akses alangsung ke kejadian. Semua bentuk siaran atau berita itu selalu atas nama kebebasan pers.Batas batas profesi tersebut dipertanyakan karena terkait dengan masalah hormat terhadap kehidupan pribadi seseaorang, praduga tak bersalah, hak akan nama  baik,  hak akan citra diri, penyebarluasan itentitas, dan rahasia sumber berita. Kebebasan pers harus bertanggungjawab moral terhadap kebebasan tersebut.

  1. Regullasi dan Pembentukan komisi

Etika komunikasi mendorong adanya menyadaran agar masyarakat mengefektifkan dan mengoptimalkan penggunaana jalur hukum. Tujuananya adalah  terciptanya apresiasi hukum oleh masyarakat, kerpercayaan terhadap media, dan kesadaran masyarakat terhadap produksi dan kualitas informamsi.

Kontrol terhadap media harus dengan legal  formal, tidak boleh dengan  cara kekerasan. Oleh karena itu keberadaan komisi dimaksudkan untuk regulalsi media  dalam masalah budaya. Di Indonesia sudah ada Komisi Penyiaran untuk pemantauan informasi melalui media elektronik, dan Dewan Pers untuk media cetak. Selain itu, diperbolehkan lembaga swadaya masyarakat seperti Media Watch.

Ada beberapa kritik terhadap keberadaan  komunikasi menurut B. Libois ( 2002:154), yaitu :

    1. Komisi tersebut tidak cukup mandiri ketika berhadapan dengan kekuasaan politik ataau hukum.
    2. Bahaya kolusi antara apembuat pembuat regulasi dan operator media
    3. Cengkaman operador terhadap komisi cukup kuat.
  1. Determinasi ekonomi dalama etika komunikasi

Legitimasi masyarakat modern tergantung pada dua hal, yaitu kemakmuran dan pertumbuhana ekonomi. Bila gagal kedua hal tersebut, masyarakat kehilangan hormat dan kesetiaan dari warganya. Dorongan untuk bersaing dan task-oriented, bisa mengakibatkan tiga defisit struktural. Ketiga defisit strukturalk tersebut menurut Sennett ( 2006:63-69) sebagai berikut:

    1. Lemahnya loyalitas terhadap lembaga;
    2. Kurangnya kepercayaan informal di antara para pekerja itu sendiri karena tim kerja cepat berganti;
    3. Melemahnya pengetahuanb/keterampilan institusional ( institusional knowledge)

Peran serikat pekerja tidak hanya terfokus pada perlindungan pekerja dan hak mereka, akan tetapi menyiapkan masa depan mereka. Sennett ( 2006:184) mengusulkan fokus peranannya pada :

a.       Menjadi agency pekekrja, serta mencari lapangan kerja.

b.      Membantu dalam pengaturan dana pensiun dan perawatan kesehatan;

c.       Membentuk komunitas ayang hilang di tempat kekrja

 

Daftar Pustaka:

HaryaTMOKO, 2007, Etika Komuniokasi, Kanaisius, Yogyakarta

Logois, Boris, 2002, La Communication publique, L’Harmattan, Paris.

Sennett Richard, 2006, The Culture of  the new Capitalism, New Heven: Yale UP.

Etika Komunikasi

Modul :  FILSAFAT KOMUNIKASI

Drs. Hasyim Purnama, M.Si

 

Mazhab etika komunikasi

MAZHAB ETIKA

Mazhab atika terdiri dari empat pendekatan, yaitu Pertama Egoisme : Kaidah atau peraturan yang berlaku dalam egoisme adalah bahwa tindakan/perbuatan yang paling baik adalah yang membawa hasil manfaat bagi dirinya untuk jangka waktu selama diperlukan. Kedua, Deontologisme : Berasal dari Bhs. Yunani deon yang berarti diharuskan/diwajibkan. Baik buruknya atau benar salahnya suatu tindakan tidak diukur berdasarkan akibat yang ditimbulkannya, akan tetapi    berdasarkan siafat-sifat tertentu dari tindakan/perbuatan yang dilakukan. Tindakan  tidak dinilai dari hasil yang dicapai, akan tetapi dinilai dari kewajiban moral dan keharusan.Ketiga, Utilitarialisme : Baik buruknya suatu tindakan dilihat dri akibat yang ditimbulkan.Keempat,Theonomisme : Kehendak Tuhan/Allah adalah merupakan ukuran baik buruknya suatu tindakan.

Egoisme terdiri dari tiga kategori, yaitu Hedonisme  dan Eudaemonisme . Hedonisme :  Berasal dari Bhs. Yunani Hedone berarti kesenangan. Tema sentral dari Hedonisme adalah memperoleh kesenangan. Artinya hal yang baik adalah hal yang memuaskan kesenangan manusia, teristimewa keinginan akan kesenangan. Sedangkan Eudaemonisme : Berasal dari Bhs. Yunani Eudaemonia yang berarti bahagia atau kebahagiaan. Tujuan Eudaemonisme adalah memperoleh kebahagiaan, baik kebahagiaan rohaniah maupun badaniah.Timbulnya raya kebahagiaan adalah keharmonisan, keseimbangan, dan keselarasan dalam dirinya sendiri, bahkan dengan alam sekitarnya.

Perbedaan pokok antara hodonisme adalah pada kebahagiaan rohaniah. Pangkal kebahagiaan adalah pengalaman. Kebahagiaan merupakan nilai tertinggi dalam kehidupaan manusia. Kebahagiaan tidak akan tercapai apabila hanya mengejar kesenangan saja.

Hedonisme Etis : Kesenangan merupakan keharusan tindakan. Bagaimana seharusnya orang bertingkahlaku dan berbuat. Hedonisme Psikologis : Manusia dalam hidupnya selalu berusaha untuk mencari kesenangan. Hedonisme Egois: Maanusia mementingkan kesenangan diri sendiri. Setiap orang memang seharusnya mencari kesenangan yang sebanyak mungkin.Hedonisme Altruistis: Kaidah kesusilaan yang berlaku adalah segala perbuatan yang menghasilkan kesenangan yang sebesar-besarnya bagi jumlah manusia yang sebanyak-banyaknya.Hedonisme Universalitas : Setiap manusia seharusnya mencari kesenangan yang sebanyak mungkin bagi kebahagiaan masyarakat banyak.Hedonisme Estetis : Faktor penentu baik buruknya suatu perbuatan adalah adanya suatu keindahan. Nilai tertinggi dari suatu kesusilaan adalah merasa senang dengan hal yang indah, dimana keindahan itu ada, dalam alam, kesenian atau dunia manusia. Hedonisme Relegius : Religi diperlukan untuk membangkitkan perasaan-perasaan tertentu, yang memberikan keinsyafan tentang ksenangan. Manusia akan merasa senang apabila menjalankan kewajiban keagamaannya. Sehingga manusia yang lain  akan menilainya  sebagai orang baik.Hedonisme Analitis : Istilah baik dan menyenangkan berarti sama, maka suatu yang baik adalah yang menghasilkan konsekuensi-konsekuensi yang menyenangkan.Hedonisme Sintesis Empiris : Diumpamakan bahwa istilah baik tidak sama dengan menghasilkan kesenangan tetapi pengalaman menunjukkan bahwa tindakan baik itu menghasilkan kesenangan.Hedonisme Sintesis Apriori : Istilah baik dan menyenangkan dianggap tidak sama artinya, tetapi yang satu perlu mempunyai hubungan dengan yang lain atau dikualifikasi oleh yang lain. Tindakan baik itu tidak hanya menghasilkan kesenangan, melainkan harus menghasilkan kesenangan.Deontologisme Tindakan : Baik buruknya suatu tindakan dapat dirumuskan atau diputuskan dalam dan auntuk situasi tertentu dan sama sekali tidak ada peraturan umum. Misalnya jujur bagi si A adalah baik, belum tentu bagi B, sebab B adalah seorang tentara yang sedang berperang dan tertangkap oleh musuh, sehing ga bagi si B justru berbohong itu lebih baik, karena akan menyelamatkan seluruh bangsa dan Negara.

Deontologisme Peraturan : Baik buruknya suatu tindakan diukur pada suatu atau beberapa peraturan yang berlaku umum, dan bersifat mutlak, tidak dilihat dari baik buruknya akibat perbuatan itu. Contoh apabila ada satu atau beberapa peraturan yang selalu berbunyai jangan membunuh, maka perbuatan membunuh itu harus dihindarkan dalam keadaan apapun.Utilitarialisme  Tindakan: Bentuk ini menganjurkan agar seala tindakan manusia akan mengakibatkan sedemikian rupa kelebihan akibat baik yang sebesar mungkin. Contoh : Berbohong terkadang diperbolehkan demi untuk menyenangkan pasangan hidup kita.Utilitarialisme Peraturan : Suatu tindakan dianggap baik apabila pada akhirnya menghasilkan kelebihan akibat baik bagi berlakunya suatu peraturan. Teori Theonom Murni:  Semua perbuatan dianggap benar atau susila apabila sesuai dengan kewajiban kewajiban yang diperintahkan Allah kepada manusia. Contoh membunuh, tidak diperbolehkan bukan karena mengakibatkan hal-hal buruk, tetapi membunuh itu dilarang karena sesungguhnya Allah tidak menyukai perbuaan membunuh. Teori Umum Kodrat : Sesuai dengan hokum kodrat bahwa Allah menciptakan manusia dan memang keberadaan manausia sudah dikehendakai Allah. Manusia di dunia diberi kebebasan untuk menjalankan apa yang baik bagi dirinya, karena itu kebaikan suatu perbuatan tergantung dari manausia itu sendiri, apakah perbuatan itu dapat mewujudkan nilai-nila manausiawi atu tidak.

Perlunya Etika Komunikasi

Etika tidak hanya dibutuhkan dalam kehidupan bersosialisasi terhadap lingkungan kita. Etika dibutuhkan di berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia komunikasi. Hal ini pun telah dibentuk dalam berbagai kode etik profesi yang berkaitan dengan komunikasi di Indonesia. Fungsinya tak lain adalah sebagai pedoman dalam memberikan informasi kepada masyarakat, khususnya oleh media, untuk menjaga agar hak publik untuk mendapatkan informasi yang benar dapat terpenuhi. Namun sangat disayangkan, media yang ada sekarang ini justru lebih mengarahkan usahanya sebagai komoditas di dalam dunia bisnis. Akibatnya, etika kerap kali terbengkalai dan terkalahkan oleh pertarungan kepentingan dalam hal politik, ekonomi, atau budaya.

Dalam cara berpikir industri, informasi pertama-tama dianggap sebagai barang dagangan, sehingga misi utama media untuk mengklarifikasi dan memperkaya debat demokrasi pun musnah (Haryatmoko, 2007: 20). Informasi hanya dianggap sebagai alat untuk meraih keuntungan sebesar mungkin, bahkan media terkadang mengorbankan profesionalismenya demi menampilkan sesuatu yang lebih sensasional atau spektakuler agar dapat meningkatkan nilai jualnya. Akibatnya, kerja wartawan yang berada di dalam media tersebut pun kini seakan hanya terbatas pada mempublikasikan kehidupan selebritis dan orang-orang penting yang laku dipasaran. Hal ini menunjukkan betapa kejamnya dunia bisnis terhadap kelangsungan hidup komunikasi melalui media yang sesungguhnya. Bahkan banyak pimpinan media datang dari dunia perusahaan bukan dari dunia jurnalisme, dan harus diakui bahwa mereka tidak peka terhadap tuntutan informasi yang sesungguhnya.

Pudarnya etika dalam tubuh media menyebabkan fenomena yang tampak seperti logika simulasi, dimana orang tidak akan dapat mencapai kebenaran karena antara realitas, representasi, hiperrealitas, atau tipuan tidak dapat dibedakan lagi (Haryatmoko, 2007: 22). Hal ini pun memacu timbulnya mimitisme, yaitu gairah yang mendorong media untuk meliput kejadian karena media lain, yang menjadi acuannya, meliput berita tersebut. Anehnya, dalam situasi ini, berita yang diliput belum tentu penting. Ketergesaan untuk meliput kejadian yang sama ini muncul hanya karena adanya persaingan antarmedia untuk menjadi orang pertama yang memberitakannya.

Yang dimaksud dengan etika di dalam pembahasan ini tidak hanya terbatas pada apa yang disampaikan kepada publik. Jelas bahwa kebenaran dan keakuratan isi berita merupakan hal utama yang harus diperhatikan dalam proses penyampaian informasi tersebut. Namun perlu diingat bahwa bahasa yang dipergunakan, pilihan gambar yang ditampilkan, serta kejadian-kejadian yang difokuskan dalam pemberitaan juga perlu dipertimbangkan kembali sebelum digunakan untuk membentuk berita tersebut. Frekuensi dan sudut pandang pemberitaan pun perlu diperhatikan agar tidak menimbulkan permasalahan baru. Hal ini bukan dilakukan bukan hanya demi pandangan masyarakat tentang media itu sendiri, melainkan juga untuk menjaga narasumber itu sendiri.

Contoh kasus dari bidang jurnalistik yang dapat kita ambil tentang bagaimana akibatnya jika etika tidak dipedulikan adalah pemberitaan yang dilakukan oleh MetroTV tentang korban dari tragedi jatuhnya pesawat Hercules milik TNI AU beberapa saat yang lalu[1]. Peristiwa yang mengerikan dan menggemparkan itu sempat menjadi fokus utama, bahkan pemberitaan tentang korban-korban yang berjatuhan akibat kejadian itu sempat memakan waktu berjam-jam dalam pemberitaan. MetroTV bahkan sempat mengemasnya di dalam satu program acara khusus. Namun, karena belum memperoleh hasil penyelidikan dari tim yang berwajib tentang penyebab jatuhnya pesawat tersebut secara pasti, isi pemberitaan pun akhirnya didominasi oleh berita tentang bagaimana keluarga korban bereaksi saat mengetahui bahwa keluarga mereka menjadi korban dalam peristiwa naas tersebut.

Pada saat itu, MetroTV meliput habis-habisan tentang bagaimana kesedihan yang menimpa keluarga korban, terutama saat jenasah para korban tiba di tempat kediamannya hingga proses penguburannya. Bahkan beberapa reporter MetroTV sengaja di tempatkan di beberapa rumah korban untuk meliput secara langsung kesedihan yang dialami oleh keluarga korban. Di dalam peliputan tersebut pun terlihat bagaimana kameramen ikut berdesakan bersama keluarga korban yang sedang saling berpelukan dan menangis, demi mendapatkan gambar wajah mereka yang penuh dengan kesedihan itu. Beberapa reporter pun sempat melakukan wawancara langsung terhadap keluarga korban yang intinya adalah mempertanyakan bagaimana perasaan mereka atas kematian sanak saudara mereka itu. Dan akibat dari pertanyaan itu adalah keluarga korban kembali menangis karena teringat akan apa yang menimpa keluarga mereka.

Tayangan yang paling menyayat hati adalah saat kameramen meliput ekspresi dan tangis histeris salah satu istri korban saat menghantarkan kepergian suaminya ke tempat peristirahatan yang terakhir. Ibu tersebut menangis sejadi-jadinya hingga kehabisan tenaga, dan untuk berjalan saja ia harus dipapah oleh orang-orang di sekelilingnya. Hal ini menunjukkan ketidakmanusiawian dan ketidaketisan media dalam melakukan peliputan dan pemberitaan. Berita yang seharusnya juga menggambarkan bahwa media pun turut berduka atas tragedi itu, formatnya justru berubah menjadi format infotainment. Untuk menggugah dan merenyuh sisi humanis kemanusiaan, dramatisasi dapat dibenarkan namun tetap dalam bingkai dan norma yang berlaku, terutama tetap harus berdasarkan fakta (Iswandi, 2006: 184).

Sama seperti mereka mengejar artis-artis untuk meminta keterangan lebih lanjut tentang kehidupan pribadi mereka, di dalam kasus ini pun mereka memaksakan kehendak untuk mewawancarai keluarga korban. Padahal harus kita akui bahwa gambar-gambar yang berhasil diambil oleh wartawan sudah menunjukkan secara jelas apa yang dirasakan oleh keluarga korban. Sebenarnya hal ini tidak boleh dilakukan mengingat narasumber masih berada dalam trauma kejiwaan dan hal ini pun telah diatur di dalam Kode Etik Jurnalistik pasal 2 yang berbunyi, wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik. Yang termasuk di dalamnya adalah menghormati pengalaman traumatik narasumber dalam penyajian gambar, foto, suara. Sehingga dapat dikatakan bahwa wartawan tidak dibenarkan untuk melakukan wawancara langsung dengan pihak keluarga korban maupun meliput gambar secara berlebihan untuk menambah efek dramatisasi. Padahal kejadian ini sudah cukup mengagetkan masyarakat tanpa perlu ditambahi efek seperti itu.

Dalam menangani berita, wartawan memiliki memang memiliki kebebasan dalam menulis. Namun kebebasan itu tetap dibatasi oleh moral, yaitu etika. Memang wartawan dituntut untuk memberikan berita secara cepat, tapi cepat bukan berarti ngawur. Berita yang akan dan telah ditulis itu tetap harus dipertimbangkan kembali dari segi humanisnya serta dampaknya terhadap orang-orang yang terlibat di dalamnya. Dalam kasus ini, peliputan yang dilakukan menunjukkan bahwa wartawan melupakan sisi humanisnya, di mana wartawan justru mengekspose kesedihan keluarga korban untuk disajikan kepada publik dalam durasi waktu yang berlebihan. Bahkan penayangan gambar-gambar yang paling menunjukkan ekspresi kesedihan itu tidak hanya diputar satu kali saja, melainkan beberapa kali di dalam program berita yang berbeda-beda.

Etika yang diabaikan dalam dunia komunikasi dapat menghilangkan kepekaan sosial dan rasa peduli terhadap sesama. Komunikasi memang sangat diperlukan di dalam bersosialisasi dan bermasyarakat, dan media adalah alat yang digunakan untuk menyampaikan informasi-informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Namun dalam berkomunikasi, terutama dalam menyampaikan informasi melalui media, di mana media dapat dengan mudah membentuk cara pandang masyarakat, banyak hal-hal yang harus dipertimbangkan kembali berkaitan dengan etika. Sedangkan masyarakat jaman sekarang sudah terbiasa untuk menyaksikan kejadian-kejadian ekstrim yang disajikan melalui media, sehingga kepekaan mereka akan pelanggaran etika yang dilakukan dalam dunia komunikasi melalui media pun sering tak mereka sadari, bahkan hanya diterima mentah-mentah sebagai sebuah informasi semata.

Sangat disayangkan bahwa di era sekarang ini, nilai etika tampaknya sudah mulai pudar dan bergeser. Banyak tindakan yang dulunya dianggap melanggar etika, kini justru diterima begitu saja oleh masyarakat seakan hal tersebut adalah hal yang biasa-biasa saja dan tidak mengganggu. Salah satu penyebab pergeseran etika, terutama dalam bidang komunikasi, tersebut adalah media massa yang makin meningkat jumlahnya. Dengan berbagai sudut pandang yang dimiliki oleh tiap media terhadap suatu berita, mereka pun mengemasnya sesuai dengan ideologi masing-masing perusahaan dan makin sering melupakan etika yang berlaku secara umum karena tuntutan dari persaingan bisnis dengan perusahaan media lainnya. Akibatnya, mereka seakan membuat batasan baru tentang etika komunikasi yang disesuaikan dengan ideologi perusahaannya masing-masing.

Kesimpulan yang dapat diambil mengenai etika dalam berkomunikasi ini adalah etika sangat dibutuhkan sebagai pedoman dalam melakukan proses menyampaikan dan menerima pesan. Dalam menyampaikan pesan melalui media, tidak boleh hanya memikirkan apakah berita tersebut memiliki nilai jual yang tinggi, melainkan juga memikirkan dampak yang akan terjadi terhadap narasumber, pihak-pihak yang terkait dengan kejadian itu, maupun audience yang menjadi konsumen berita tersebut. Etika juga dibutuhkan untuk menjaga agar informasi yang disampaikan tidak merugikan atau mengganggu privasi seseorang. Pengalaman traumatik yang menyerang kejiwaan seseorang atau narasumber juga patut menjadi pertimbangan sebelum wartawan ingin menggali informasi lebih lanjut. Dengan tetap berpegang pada etika yang ada, maka sisi sosial dan humanis, keadilan, dan kebebasan berpendapat yang sesungguhnya tidak akan terabaikan.

Menjamurnya Sarana Komunikasi

Menjamurnya sarana komunikasi, terbentuknya sistem media yang beragam dan kompetitif mempengaruhi media komunikasi politik. Sistem media komunikasi politik ini diwarnai oleh tiga hal: pertama, kelahiran berbagai bentuk jurnalistik. Kedua, teknologi ini memungkinkan tersedianya setiap saat berita baru melalui sistem penyebaran internet dan sumber informasi lainnya. Ketiga, sistem komunikasi, organisasi, dan aliran komunikasi massa tidak lagi didefenisikan oleh batas-batas negara. Teknologi satelit memperluas dan mempercepat penayangan kejadian ke seluruh penjuru dunia.

Tersedia informasi, semakin mudahnya akses, luasnya sumber informasi, mudahnya mekanisme pertukaran pendapat/informasi mengubah harapan masyarakat dan meningkatkan kesadaran kritis mereka. Semakin banyak pula saluran yang memberi banyak pilihan kepada masyarakat untuk mengikuti politik, tidak hanya pemerintah saja. Politik harus bersaing pula dengan proglam lainyang tidak kalah menariknya, seperti hiburan, olahraga, selebriti, dan mode.

Jurnalisme politik harus mampu bersaing untuk merebut hati para audiencenya. Karena semakin luasnya ranah jurnalisme, bentuk persaingan itu memacu semakin banyak pemain yang terlibat atau para pembuat berita dalam jurnalisme politik: narasumber, wartawan investigatif, tabloid, website, dan rakyat biasa.


Prinsip Pelayanan Publik

Betapapun prioritas pada orientasi keuntungan, suatu media masih tetap membutuhkan legitimasi yang hanya bisa didapat jika ada manfaat publik. Jika tidak sepenuhnya benar pernyataan yang mengatakan bahwa media di bawah kontrol pemerintah hanya melayani pemerintah dan media swasta hanya melayani kepentingan pemodal.

Pelayanan publik adalah semua kegiatan yang pemenuhannya harus dijamin, diatur, dan diawasi oleh pemerintah karena pemenuhannya diperlukan untuk pewujudan dan perkembangan saling ketergantungan sosial, dan pada hakikatnya, perwujudan sulit terlaksana tanpa campur tangan kekuatan pemerintah (B. Libois, 2002: 139).

Pelayanan publik dapat dimengerti sebagai pengambilalihan tanggung-jawab oleh kolektivitas atas sejumlah kekayaan, kegiatan atau pelayanan yang harus lepas dari logika kepemilikan pribadi atau swasta dan harus dihindarkan dari tujuan melulu mencari keuntungan.


Etika Komunikasi di Dalam Situasi Konflik

 

Orang sering menyembunyikan dan protes terhadap media massa tertentu karena dianggap memanipulasi berita. Para pemimpin redaksi dan wartawan dihadapkan dengan masalah pada situasi konflik. Mereka sering dituduh, disatu pihak, ikut mengobarkan kebencian dan konflik melalui media, di lain pihak, berkat wartawan. Orang mendapat informasi mengenai suatu kejadian.

Semua orang tahu peran media adalah mempunyai dan membentuk opini. Membentuk opini dalam situasi konflik perlu diterjemahkan dalam perannya meredakan ketegangan. Berita seharusnya mencerminkan peran juru bicara derita kemanusiaan. Maka, toleransi perlu diciptakan. Toleransi dalam situasi konflik harus lebih konkrit yaitu berpihak pada korban. Siapa pun korban itu kalau demi korban harus dibela.

Jika sudah amplop yang sudah berperan dalam pembusukan wartawan atau redaksi. Pada situasi seperti ini, integritas moral dan sikap kritis jajaran redaksi dan wartawan sedang di uji.

Salah satu kenyataan yang harus diperhitungkan adalah bahwa pers adalah perusahaan. Koran, majalah atau informasi audiovisual yang memiliki, di satu pihak, pemegang saham, dilain pihak, redaksi yang terdiri dari wartawan profesional. Cukup sering kepentingan utama pemegang saham tidak sesuai dengan deontologi yang mengatur profesi wartawan. Lebih-lebih kepentingan pemegang saham sangat beragam. Ada yang lebih menekankan keberhasilan ekonomi, ada yang memberi prioritas pada kepentingan politik, ada yang menekankan humanisme.

Ketegangan bisa mewarnai hubungan antara tim manajemen dan tim redaksi. Orientasi pasar makin memperparah ketegangan dan merugikan upaya untuk memberi prioritas pada kebenaran. Terjadi destabilisasi keseimbangan hubungan antara penguasa keuangan dan intelektual. Media yang berkelangsungannya dipertaruhkan dengan demikian akan mudah dikontrol. Media selain menghadapi konflik intern juga mneghadapi tekanan dari berbagai institusi dan organisasi yang merasa terancam dengan sikap kemandirian dan sikap kritisnya.

Sering kali opini sangat dipengaruhi oleh opini pembaca atau pemirsa, tidak hanya pemilik saham. Pandangan ini ditegaskan oleh James Curran dengan alasan : pertama, pemilik media perlu mempertahankan kepentingan pembaca agar tetap diminati; kedua, pemilik dan staf redaksi ingin mendapatkan legitimasi publik untuk menghindari sanksi masyarakat; ketiga, media sangat dipengaruhi oleh kepribadian profesional dari stagnya. Ketiga pertimbangan ini menunjukkan adanya kekuatan yang bisa melawan subordinasi media oleh komitmen politik dan kepentingan ekonomi pemegang saham. Bisa dianggap naif bila melebih-lebihkan peran pembaca atau audience.

Pembaca/pendengar/pemirsa cenderung reaktif dari pada proaktif. Mereka lebih memilih atau bereaksi terhadap apa yang ada di pasar atau yang disajikan dari pada berinisiatif mengusulkan sesuatu. Dan dari luasnya pilihan di pasar rill bisa diperkirakan sejauh mana kekuasaan konsumen itu efektif.

Selain itu, perlu diperhitungkan pula bahwa cek dan keseimbangan memang bisa diciptakan untuk melindungi media dari campur tangan negara karena budaya politik demokrasi akan sangat kritis bila pemerintah dirasa campur tangan membatasi kebebasan media. Namun, tidak demikian halnya kalau pembatasan itu datang dari pemilik saham lebih celaka lagi, para pembaca, pendengar atau pemirsa yang secara kolektif bersiteguh menginginkan pers yang bebas dan berani, justru sering menunjukkan sikap tidak toleran bila informasi atau analisis yang dipublikasikan menganggumereka entah secara individual atau kelompok. Mereka tidak puas hanya protes, cukup sering mereka datang dengan ancaman yang cukup serius. Pena menawarkan, pembaca menentukan. Kehendak untuk mengahalangi media guna menyatakan opini selalu menghadapi ancaman kekerasan. Banyak wartawan harus menghadapi terorisme intelektual dan terorisme fisik. Meskipun orang sering mendengar di antara wartawan terdapat juga yang melakukan pemerasan terhadap sumber berita.

Persoalam yang paling penting adalah menghadapi sumber berita kontraversial. Kontraversial dalam arti bahwa sumber berita sering terlibat dalam kasus kekerasan, dikaitkan secara langsung atau tidak dengan berbagai kerusuhan karena ideologi rasis atau fanatisme agama yang terang-terangan menafikan kelompok lain.

Dari kebutuhan akan sensasi, berita semacam itu memang layak jual di pasaran. Redaksi tentu sudah tahu bahwa pertama-tama bukan kolom opini atau editorial yang membentuk opini masyarakat, tetapi berita. Situasi ini menempatkan media dalam dilema: di satu pihak, memprioritaskan perjuangan melalui wacana.

Protes terhadap media bukan lagi hanya bahwa media telah memperlakukan dalam posisi sama antara pelaku kejahatan dan korban. Tetapi lebih dari itu, media tertentu telah memihak pelaku kekerasan. Dalam konteks ini, bisakah diberlakukan asas praduga tak bersalah sering menjadi awal viktimisasi kedua bagi korban. Kewajiban media dalam situasi konflik adalah sebagai saksi, dan lebih dari itu, media dituntut memihak pada korban. Dengan demikian, tidak mungkin media tidak mengambil sikap. Setidak-tidaknya memberi penjelasan terhadap wacana yang berkembang.

Berbicara etika komunikasi, perlu memperhitungkan bahwa media berjuang juga untuk bisa bertahan secara ekonomis dan sekaligus bisa tetap hidup sebagai pemberi informasi. Masyrakat kita sekarang adalah masyarakat komunikasi. Tidak ada kekuasaan baik politik, ekonomi, agama atau pendidikan yang bisa lepas dari strategi komunikasi. Komunikasi dipahami sebagai informasi yang diorganisir, informasi yang di kontrol, dan informasi yang diarahkan. Memberi informasi lebih dari sekedar berkomunikasi, tetapi mengurai, mengeksplisitkan, dan menyingkap. Dengan kata lain, harus berani mempertanyakan komunikasi yang menjadi dominan di masyarakat.


Analogi Ekonomi dan Etika

Masyarakat seharusnya mengekang diri dengan mengunakan hukum untuk membungkam kritik atau memberi sanksi kepada yang tidak menghendaki konfirmitas. Kebebasan individu untuk berekspresi, memilih gaya hidup dan konflik yang ditimbulkan merupakan dinamika perkembangan masyarakat. Masyarakat memperkuat dirinya dengan mengembangkan individu anggotanya (M. Tebbit, 2002:117). Maka, politik yang cenderung memihak negara atau partisipan kelompok masyarakat tertentu harus diubah menjadi politik yang berpihak kepada warga negara.

Prinsip demokratis, mayoritas yang menentukan, bila diberlakukan dalam hal etika perlu mempertimbangkan analogi Dworkin. Sama halnya mayoritas tidak boleh memonopoli semua sumber ekonomi hanya untuk kelompoknya dan membiarkan yang lain kelaparan, demikian pula mayoritas tidak dibenarkan mendominasi bidang etika sehingga kelompok minoritas sama sekali dicabut dari haknya untuk ikut menentukan lingkungan etika hidupnya (ibid., 124-125).

Televisi menjadi medium yang melahirkan masyarakat komunikatif yang kritis dan produktif. Masyarakat komunikatif yang dihidupi etika komunikasi, yakni cara berkomunikasi yang mempertimbangkan berbagai perspektif kesahihan norma. Yaitu kesahihan kebenaran dan kejujuran, kesahihan ketepatan ruang dan waktu, kesahihan norma dalam perspektif komprehensif. Sebutlah kesahihan etika komunikasi multikultur, etika jurnalistik, dan lainnya.

Ironisnya, industri penyiaran Indonesia selalu membela diri dengan dalih kehendak pasar yang diukur sistem rating sebagai pegas utama bisnis televisi dunia. Padahal, menjadi kenyataan, sistem rating dunia ditumbuhkan atas penghormatan terhadap etika komunikasi sebagai syarat utama perhitungan pasar yang dikelola dalam sistem rating. Artinya, sistem rating televisi Indonesia adalah pasar yang banal, jauh dari pasar demokrasi, hanya membela hak ekonomi tanpa melindungi konsumen.

Semua perbuatan perlu berpandukan kepada nilai-nilai murni yang dipanggil etika sebagai landasan yang menjamin perbuatan itu membuahkan hasil-hasil yang baik. Di dalam semua jenis komunikasi interpersonal, amalkan etikanya. Secara universal nilai-nilai itu ialah:


1. Bersikap Jujur

Apabila menceritakan perasaan, ceritakan dengan jujur apa sebenarnya perasaan yang dirasai. Kalau tersinggung, katakan tersinggung. Gunakan ayat “saya.” Katakan dengan jujur “Saya rasa tersinggung.” Jangan katakan tidak tersinggung. Kalau marah, katakan “Saya marah.” Kalau tidak mahu, katakan “Saya tidak mahu.”

2. Tidak Menuduh

Jangan menuduh dan mempersalahkan sesiapa. Jangan gunakan ayat “awak.” Jangan berkata “Kata-kata awak menyinggung perasaan saya.” Ayat-ayat seperti ini menuduh orang itu bersalah menyebabkannya berasa begitu ataupun begini. Ia akan menyebabkan hubungan menjadi tegang dan komunikasi menjadi negatif.

3. Nilai Bersama

Ada kalanya seseorang berada di tengah-tengah kelompok orang-orang yang mementingkan nilai-nilai bersama. Orang Melayu adalah contoh orang-orang yang mementingkan kepentingan dan tujuan bersama, dan tidak mementingkan tujuan peribadi. Dalam situasi seperti itu, janganlah bercakap kerana hendak memperjuangkan perasaan sendiri. Ikut sama-sama bercakap demi kepentingan semua orang ataupun, lebih baik diam sahaja.


4. Memberi Gambaran Tepat

 

Sampaikan maklumat dengan tepat. Jangan memberi maklumat palsu. Jangan berdusta. Jangan mengherot-perotkan maklumat. Jangan sengaja menghilangkan sebahagian daripada maklumat itu. Jangan beri gambaran yang salah.


5. Berkata Benar

Jangan sekali-kali mempunyai niat menipu dan memperdaya orang itu.


6. Mematuhi Etika

Jangan mengumpat dan jangan bergosip, apabila mendengar orang lain mengumpat, dengan lembut tegur orang itu, kalau tidak berani, tingglkan tempat itu ataupun jangan dengar.


7.Selaras
Kata-kata mesti sama dengan apa yang gerak-geri kita ucapkan. Apabila mulut kita berkata “ya,” jangan pula kepala menggeleng-geleng. Kalau mulut berkata “tak mahu,” jangan pula suakan tangan mengambilnya.


8. Tidak Menggangu


Jangan menyampuk dan memotong orang lain yang sedang bercakap. Biarkan dia bercakap sampai habis, baru ambil giliran. Apabila orang lain sedang bercakap berkenaan satu pekara, jangan pula menyebut perkara-perkara lain yang tidak ada kaitan dengan apa yang disebutnya. Jangan buat apa-apa yang mengganggu orang lain daripada bercakap dan mendengar dengan tenang.


9. Bersikap Positif


Jangan bercakap berkenaan perkara-perkara negatif. Jangan suka merungut dan mencari cacat-cela sebaliknya hendaklah sentiasa murah dengan penghargaan dan pengiktirafan.

 

 

 

Prinsip Etika Komunikasi Dalam komunikasi

 

Prinsip etika komunikasi dalam menjual ditekankan akan pengertian salesman terhadap:

1. Prinsip kepatuhan terhadap peraturan

2. Prinsip kerahasiaan

3. Prinsip kebenaran dalam melakukan pencatatan

4. Prinsip persaingan sehat

5. Prinsip kejujuran dan wewenang

6. Prinsip keselarasan dan kepentingan

7. Prinsip keterbatasan keterangan

8. Prinsip kehormatan profesi

9. Prinsip pertanggungjawaban sosial

10. Prinsip persamaan perlakuan

11. Prinsip kebersihan pribadi

 

Fungsi Komunikasi

 

Dalam melakukan penjualan, komunikasi mempunyai beberapa fungsi yaitu:

1. Komunikasi dapat digunakan sebagai informasi, misalnya sebagai ucapan untuk menyapa khalayak, memberikan informasi tentang keunggulan produk yang dijualnya kepada khalayak, menawarkan produk yang dijualnya kepada khalayak.

2. Komunikasi dapat digunakan untuk mendidik, misalnya digunakan untuk menerangkan dan memperagakan guna, manfaat dan kelebihan produk yang akan dijual kepada khalayak.

3. komunikasi dapat digunakan sebagai alat menghibur, misalnya khalayak dapat menikmati komunikasi massa dalam bentuk hiburan.

4. komunikasi dapat digunakan sebagai kontrol sosial, misalnya kasus ”Mesuji”, begitu kuatnya pemberitaan tntang peristiwa tersebut, sehinga pemerintah harus melakukan koresksi secara menyeluruh tentang kebijakan tentang perijinan usaha dan hak kepemilikan tanah yang selama ini selalu terabaikan.

Mazhab Filsafat

Modul :   FILSAFAT KOMUNIKASI

Drs. Hasyim Purnama, M.Si

MAZHAB FILSAFAT

Dalam realitasnya, filsafat terbagai ke dalam beberapa mazhab. Kemunculan mazhab ini terutama berada di abad pertengahan sebagai konsekuensi dari munculnya golongan-golongan pemikir yang sepaham dengan teori, ajaran, bahkan aliran tertentu terhadap tokoh-tokoh filsafat atau filsuf. Mazhab-mazhab dalam filsafat terbagai atas rasionalisme, positivisme, empirisme, idealisme, pragmatisme, fenomenologi, dan eksistensialisme.

Rasionalisme muncul pada abad ke-17 dan tokoh yang dikenal dalam mazhab ini adalah Rene Descrates (1596-1650) yang memopulerkan ungkapan cogito ergo sum yang berarti aku berpikir maka aku ada. Menurut Descrates, manusia memiliki kebebasan dalam berkehendak oleh karena itu manusia dapat merealisasikan kebebasannya tersebut dan kebebasanlah yang merupakan cirri khas kesadaran manusia yang berpikir. Mazhab ini menekankan metode filsafatnya pada rasionalitas dan sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah rasio atau akal. Metode deduktif menjadi metode yang popular dalam mazhab ini. Metode tersebut menggunakan pola penalaran dengan mengambil kesimpulan dari suatu yang umum untuk diterapkan kepada hal-hal yang khusus.

Empirisme  merupakan mazhab yang menekankan pada pengalaman nyata atau empiris yang menjadi sumber dari segala pengetahuan. Bahwa sebuah pengalaman yang khusus merupakan kesimpulan dari kebenaran-kebenaran yang bersifat umum. Ini merupakan kebalikan dari mazhab rasionalisme, seiring pula kemunculan mazhab empirisme pada abad yang sama dengan rasionalisme. Tokoh yang terkenal dalam mazhab ini adalah Thomas Hobbes (1588-1679) dan John Locke (1632-1704). Menurut kedua tokoh ini, pengalaman adalah awal dari semua pengetahuan dan dapat memberikan kepastian. Pengalaman ini bisa berupa pengalaman lahiriah maupun batin yang keduanya saling berhubungan. Pengalaman lahiriah menghasilkan gejala-gejala psikis yang harus ditanggapi oleh pengalaman batiniah.

Idealisme merupakan istilah yang digunakan oleh Leibniz pada abd ke-18. Merujuk pada pemikiran Plato bahwa idealisme memfokuskan pemikiran bahwa seluruh realitas itu bersifat spiritual atau psikis, dan materi yang bersifat fisik sebenarnya tidaklah nyata. Pemikiran ini didukung oleh George Wilhem Friederch Hegel (1770-1831) di Jerman yang memiliki pendapat bahwa yang mutlak adalah roh yang mengungkapkan dirinya di dalam alam dengan maksud agar dapat sadar akan dirinya sendiri dan hakikat dari roh itu adalah idea tau pikiran. Menurut Hegel, semuanya yang real bersifat rasional dan semuanya yang rasional bersifat real. Metode dialektik diperkenalkan oleh Hegel dengan menerapkan tiga proses dialektik, yaitu teas, antitesa, dan sintesa dimana ia mengusahakan kompromi antara beberapa pendapat yang berlawanan satu sama lainnya.

Positivisme merupakan mazhab yang menekankan pemikiran pada apa yang telah diketahui, yang faktual, nyata, dan apa adanya. Postivis mengandalkan pada pengalaman individu yang tampak dan dirasakan dengan pancaindera. Sehingga segala sesuatunya yang bersifat abstrak atau metafisik tidak diakui. August Comte (1798-1857) merupakan tokoh mazhab ini yang menyatakan bahwa manusia tidak mencari penyebab yang berada di belakang fakta dan dengan menggunakan rasionya manusia berusaha menetapkan relasi-relasi antarfakta.

Pragmatisme muncul pada awal abd ke-20. Mazhab ini menegaskah bahwa segala sesuatunya haruslah bernilai benar apabila membawa manfaat secara praktis bagi manusia. Artinya, pengetahuan yang berasal dari pengalaman, rasio, pengamatan, kesadaran lahiriah maupun batiniah, bahkan yang bersifat abstrak atau mistis pun akan diterima menjadi sebuah kebenaran apabila membawa manfaat praktis. John Dewey (1859-1852) merupakan tokoh dalam mazhab ini yang berpendapat bahwa filsafat tidak boleh hanya mengandalkan pemikiran metafisis yang tidak bermanfaat praktis bagi manusia, melainkan harus berpijak pada pengalaman yang diolah secafa aktif kritis dan memberikan pengarahan bagi perbuatan manusia dalam kehidupan nyata.

Fenomenologi  merupakan mazhab yang bersandar pada kemunculan fenomena-fenomena baik yang nyata maupun semu. Fenomena tidak hanya bisa dirasakan oleh indera, juga dapat digapai tanpa menggunakan indera. Tokoh dalam mazhab ini adalah Edmund Husserl (1859-1938) yang menegaskan hukum-hukum logika yang memberi kepastian sebagai hasil pengalaman bersifat a priori dan bukan bersifat a posteriori.

Eksistensialisme dipelopori oleh Jean Paul Sartre (1905-1980) yang mengembangkan pemikiran bahwa filsafat berpangkal dari realitas yang ada dan manusia itu memiliki hubungan dengan keberadaannya dan bertanggung jawab atas keberadaan tersebut. Mazhab ini menekankan pada bagaimana cara manusia berada di dunia yang berbeda dengan benda-benda atau objek lainnya. Dengan kata lain, eksistensialisme menegaskan tentang bagaimana cara manusia bereksistensi dan bukan sekadar hanya berada sebagai mana benda-benda lainnya.

Manusia berada didunia justru berhubungan dengan semua manusia dan berhubungan dengan benda-benda. Benda-benda berarti karena beradanya manusia. Untuk membedakan dua cara berada dalam eksistensialisme, yaitu dengan dua kata yang berbeda, untuk benda berada, sedangkan manusia bereksistensi.

  Jean Paul Sartre, dalam bukunya yang terkenal L etre et leneant ( keberadaam dan ketiadaan). Sartre, membagi ada atau berada ( l etre) menjadi dua macam, yaitu :

a. L etre-en-soi (berada-dalam-diri)

   b. L etre-pour-soi (ber-ada-untuk-diri) 

Teori Psikologi Tentang Manusia

PSIKOLOGI KOMUNIKASI

Modul 2 : TEORI PSIKOLOGI TENTANG MANUSIA

Drs. Hasyim Purnama, M.Si

 

Tujuan Instruksional Umum :

 

Tujuan Modul ini untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa tentang konsep diri.

 

Tujuan Instruksional Khusus :

  1. Agar mahasiswa mengerti dan memahami mengenai konsep diri;
  2. Agar mahasiswa mengerti dan memahami tentang pemebentukan konsep diri;
  3. Agar Mahasiswa memahami faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri.
  4. Agar Mahasiswa memahami pola komunikasi.

 

 

 

KONSEP DIRI TERHADAP PERILAKU MANUSIA

 

A. KONSEP DIRI

Dengan mengamati diri kita maka sampailah kita pada gambaran dan penilaian mengenai diri kita. inilah yang disebut self-concept atau konsep diri.Konsep diri merupakan suatu bagian yang penting dalam setiap pembicaraan tentang kepribadian manusia. Konsep diri merupakan sifat yang unik pada manusia, sehingga dapat digunakan untuk membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya.

Menurut William D. Brooks mendefinisikan konsep diri sebagai “persepsi yang bersifat fasik,sosial, dan psikologi, mengenai diri kita, yang didapat dari pengalaman dan interaksi kita dengan orang lain”. jadi konsep diri dalah pandangan dan perasaan tentang diri kita.

Tidak ada seorangpun yang terlahir secara langsung memiliki self concept, ia berkembang seiring perjalanan hidup seseorang. umumnya self concept muncul dari dorongan diri dalam diri seseorang dan pengaruh dari luar terhadap seseorang.

Jika kita diterima oleh orang lain, dihormati, dan disenangi karena keadaan diri kita maka kita akan cenderung bersikap menghormati dan menerima diri kita. Sebaliknya, apabila orang lain selalu meremehkan,menyalahkan dan menolak kita, kita cenderung tidak menyenangi diri sendiri.

B. Sumber konsep diri

Masalah-masalah rumit yang dialami manusia, seringkali dan bahkan hamper semua sebenarnya berasal dari dalam diri. Mereka tanpa sadar menciptakan mata rantai masalah yang berakar dari problem konsep diri. Dengan kemampuan berpikir dan menilai, manusia malah suka menilai yang macam-macam terhadap diri sendiri maupun sesuatu atau orang lain – dan bahkan meyakini persepsinya yang belum tentu obyektif. Dari situlah muncul problem seperti inferioritas, kurang percaya diri, dan hobi mengkritik diri sendiri. Konsep diri dapat didefinisikan secara umum sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang terhadap dirinya. Definisi yang lebih rinci lagi adalah sebagai berikut :

a. Konsep diri adalah keyakinan yang dimiliki individu tentang atribut (ciri-ciri sifat ) yang dimiliki (Brehm & Kassin, 1993).

b. Atau juga diartikan sebagai pengetahuan dan keyakinan yang dimilki individu tentang karakteristik dan ciri-ciri pribadinya (Worchel, 2000).

c. Definisi lain menyebutkan bahwa Konsep diri merupakan semua perasaan dan pemikiran seseorang mengenai dirinya sendiri. Hal ini meliputi kemampuan, karakter diri, sikap, tujuan hidup, kebutuhan dan penampilan diri

d. Those physical, social and psychological perceptions of ourselves that we have derived from experiences and our interaction with others (William D Brooks : 1974)

Harga diri (self-esteem) adalah penilaian, baik positif atau negatif, individu terhadap diri sendiri. tingginya self-esteem merujuk pada tingginya estimasi individu atas nilai, kemampuan, dan kepercayaan yang dimilikinya. sedangkan self-esteem yang rendah melibatkan penilaian yang buruk akan pengalaman masa lalu dan pengharapan yang rendah bagi pencapaian masa depan.

Orang dengan self-esteem yang tinggi memiliki sikap positif terhadap dirinya, mereka merasa puas dan menghargai diri sendiri.Self esteem mempengaruhi perilaku komunikasi seseorang.

Social Evaluation (penilaian sosial) Kebanyakan informasi tentang diri sendiri tidak kita dapati dari perenungan atau refleksi diri, melainkan dari orang lain. keyakinan anda tentang pendapat orang lain terhadap anda akan mempengaruhi perilaku dan keinginan anda untuk berubah. Macam-macam proses evaluasi ada dua yaitu : Reflected Appraisal dan Direct Feedback.

 

Seseorang dikatakan mempunyai konsep diri negatif jika ia meyakini dan memandang bahwa dirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa, tidak kompeten, gagal, malang, tidak menarik, tidak disukai dan kehilangan daya tarik terhadap hidup. Orang dengan konsep diri negatif akan cenderung bersikap pesimistik terhadap kehidupan dan kesempatan yang dihadapinya. Ia tidak melihat tantangan sebagai kesempatan, namun lebih sebagai halangan. Orang dengan konsep diri negatif, akan mudah menyerah sebelum berperang dan jika gagal, akan ada dua pihak yang disalahkan, entah itu menyalahkan diri sendiri (secara negatif) atau menyalahkan orang lain. Sebaliknya seseorang dengan konsep diri yang positif akan terlihat lebih optimis, penuh percaya diri dan selalu bersikap positif terhadap segala sesuatu, juga terhadap kegagalan yang dialaminya. Kegagalan bukan dipandang sebagai kematian, namun lebih menjadikannya sebagai penemuan dan pelajaran berharga untuk melangkah ke depan. Orang dengan konsep diri yang positif akan mampu menghargai dirinya dan melihat hal-hal yang positif yang dapat dilakukan demi keberhasilan di masa yang akan datang.

Ada dua komponen dalam konsep diri yaitu komponen kognitif dan komponen afektif. Komponen kognitif disebut sebagai citra diri (self image) sedangkan komponen afektif adalah harga diri (self esteem). Konsep diri terbentuk akibat pengalaman interaksi dengan orang lain yaitu dengan menemukan apa yang orang lain pikirkan tentang diri individu tersebut. Ini yang disebut dengan penaksiran yang direfleksikan dan ini merupakan hal penting dalam pembentukan konsep diri. Penaksiran diri (reflected apprasial) menunjuk pada Psikologi Komunikasi ide bahwa manusia menaksir dirinya sendiri dengan mereflksikan atau bercermin dari bagaimana orang menaksir dirinya “looking glass self”. Jadi hakekat konsep dir sesungguhnya merupakan membayangkan apa yang orang lain pikirkan tentang diri sendiri.

 

C. Proses Pembentukan Konsep Diri

 

Konsep diri terbentuk melalui proses belajar sejak masa pertumbuhan seorang manusia dari kecil hingga dewasa. Lingkungan, pengalaman dan pola asuh orang tua turut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap konsep diri yang terbentuk. Sikap atau respon orang tua dan lingkungan akan menjadi bahan informasi bagi anak untuk menilai siapa dirinya. Oleh sebab itu, seringkali anak-anak yang tumbuh dan dibesarkan dalam pola asuh yang keliru dan negatif, atau pun lingkungan yang kurang mendukung, cenderung mempunyai konsep diri yang negatif. Hal ini disebabkan sikap orang tua yang misalnya : suka memukul, mengabaikan, kurang memperhatikan, melecehkan, menghina, bersikap tidak adil, tidak pernah memuji, suka marah-marah, dsb – dianggap sebagai hukuman akibat kekurangan, kesalahan atau pun kebodohan dirinya. Jadi anak menilai dirinya berdasarkan apa yang dia alami dan dapatkan dari lingkungan. Jika lingkungan memberikan sikap yang baik dan positif, maka anak akan merasa dirinya cukup berharga sehingga tumbuhlah konsep diri yang positif. Konsep diri ini mempunyai sifat yang dinamis, artinya tidak luput dari perubahan. Ada aspek-aspek yang bisa bertahan dalam jangka waktu tertentu, namun ada pula yang mudah sekali berubah sesuai dengan situasi sesaat. Misalnya, seorang merasa dirinya pandai dan selalu berhasil mendapatkan nilai baik, namun suatu ketika dia mendapat angka merah. Bisa saja saat itu ia jadi merasa “bodoh”, namun karena dasar keyakinannya yang positif, ia berusaha memperbaiki nilai. Dalam konsep diri ini terdapat beberapa unsur antara lain:

1. Penilaian diri merupakan pandangan diri terhadap:

• Pengendalian keinginan dan dorongan-dorongan dalam diri. Bagaimana kita mengetahui dan mengendalikan dorongan, kebutuhan dan perasaanperasaan dalam diri kita.

• Suasana hati yang sedang kita hayati seperti bahagia, sedih atau cemas. Keadaan ini akan mempengaruhi konsep diri kita positif atau negatif.

• Bayangan subyektif terhadap kondisi tubuh kita. Konsep diri yang positif akan dimiliki kalau merasa puas (menerima) keadaan fisik diri sendiri.

Sebaliknya, kalau merasa tidak puas dan menilai buruk keadaan fisik  sendiri maka konsep diri juga negatif atau akan jadi memiliki perasaan rendah diri.

2. Penilaian sosial merupakan evaluasi terhadap bagaimana individu menerima penilaian lingkungan sosial pada diri nya. Penilaian sosial terhadap diri yang cerdas, supel akan mampu meningkatkan konsep diri dan kepercayaan diri.

Adapun pandangan lingkungan pada individu seperti si gendut, si bodoh atau si nakal akan menyebabkan individu memiliki konsep diri yang buruk terhadap dirinya.

3. Konsep lain yang terdapat dalam pengertian konsep diri adalah self image atau citra diri, yaitu merupakan gambaran:

• Siapa saya, yaitu bagaimana kita menilai keadaan pribadi seperti tingkat kecerdasan, status sosial ekonomi keluarga atau peran lingkungan sosial kita.

• Saya ingin jadi apa, kita memiliki harapan-harapan dan cita-cita ideal yang ingin dicapai yang cenderung tidak realistis. Bayang bayang kita mengenai ingin jadi apa nantinya, tanpa disadari.  Psikologi Komunikasi dipengaruhi oleh tokoh-tokoh ideal yang yang menjadi idola, baik itu ada di lingkungan kita atau tokoh fantasi kita.

• Bagaimana orang lain memandang saya, pertanyaan ini menunjukkan pada perasaan keberartian diri kita bagi lingkungan sosial maupun bagi diri kita sendiri. Konsep diri yang terbentuk pada diri juga akan menentukan penghargaan yang berikan pada diri. Penghargaan terhadap diri atau yang lebih dikenal dengan self esteem ini meliputi penghargaan terhadap diri sebagai manusia yang memiliki tempat di lingkungan sosial. Penghargaan ini akan mempengaruhi dalam berinteraksi dengan orang lain.

 

D. Faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri

 

Berbagai faktor dapat mempengaruhi proses pembentukan konsep diri seseorang. Secara umum konsep diri dipengaruhi oleh orang lain dan kelompok rujukan. Manusia mengenal dirinya secara kodrati didahului oleh pengenalan terhadap orang lain terlebih dahulu, namun tidak semua orang mempunyai pengaruh yang sama. Yang paling berpengaruh adalah orang lain yang paling dekat dengan diri kita yang terbagi 3 golongan. Golongan pertama disebut sebagai significant others, yaitu orang tua dan saudara). Golongan ke dua disebut sebagai affective others yaitu orang lain yang memiliki ikatan emosional seperti sahabat karib. Golongan ke tiga disebut sebagai generalized otheri yaitu keseluruhan dari orang-orang yang dianggap memberikan penilaian terhadap diri sendiri. Sementara kelompok rujukan mempengaruhi konsep diri karena ikatan-ikatan norma-norma yang dilekatkan pada diri manusia. Sehingga konsep diri terbentuk

karena penyesuain diri dengan norma-norma yang berlaku dalam kelompok tersebut.

Namun secara detail konsep diri dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti tersebut di bawah ini :

Pola asuh orang tua

Pola asuh orang tua seperti sudah diuraikan di atas turut menjadi factor signifikan dalam mempengaruhi konsep diri yang terbentuk. Sikap positif orang tua yang terbaca oleh anak, akan menumbuhkan konsep dan pemikiran yang positif serta sikap menghargai diri sendiri. Sikap negatif orang tua akan mengundang pertanyaan pada anak, dan menimbulkan asumsi bahwa dirinya tidak cukup berharga untuk dikasihi, untuk disayangi dan dihargai; dan semua itu akibat kekurangan yang ada padanya sehingga orang tua tidak sayang

Kegagalan

Kegagalan yang terus menerus dialami seringkali menimbulkan pertanyaan kepada diri sendiri dan berakhir dengan kesimpulan bahwa semua penyebabnya terletak pada kelemahan diri. Kegagalan membuat orang merasa dirinya tidak berguna.

Depresi

Orang yang sedang mengalami depresi akan mempunyai pemikiran yang cenderung negatif dalam memandang dan merespon segala sesuatunya, termasuk menilai diri sendiri. Segala situasi atau stimulus yang netral akan dipersepsi secara negatif. Misalnya, tidak diundang ke sebuah pesta, maka berpikir bahwa karena saya “miskin” maka saya tidak pantas diundang. Orang yang depresi sulit melihat apakah dirinya mampu survive menjalani kehidupan Psikologi Komunikasi selanjutnya. Orang yang depresi akan menjadi super sensitif dan cenderung mudah tersinggung atau “termakan” ucapan orang

Kritik internal

Terkadang, mengkritik diri sendiri memang dibutuhkan untuk menyadarkan seseorang akan perbuatan yang telah dilakukan. Kritik terhadap diri sendiri sering berfungsi menjadi regulator atau rambu-rambu dalam bertindak dan berperilaku agar keberadaan kita diterima oleh masyarakat dan dapat beradaptasi dengan baik.

 

E. Merubah Konsep Diri

 

Seringkali diri sendirilah yang menyebabkan persoalan bertambah rumit dengan berpikir yang tidak-tidak terhadap suatu keadaan atau terhadap diri sendiri. Namun, dengan sifatnya yang dinamis, konsep diri dapat mengalami perubahan ke arah yang lebih positif. Langkah-langkah yang perlu diambil untuk memiliki konsep diri yang positif :

 

Bersikap obyektif dalam mengenali diri sendiri

Jangan abaikan pengalaman positif atau pun keberhasilan sekecil apapun yang pernah dicapai. Lihatlah talenta, bakat dan potensi diri dan carilah cara dan kesempatan untuk mengembangkannya. Janganlah terlalu berharap bahwa Anda dapat membahagiakan semua orang atau melakukan segala sesuatu sekaligus. You can’t be all things to all people, you can’t do all things at once, you just do the best you could in every way….

Hargailah diri sendiri

Tidak ada orang lain yang lebih menghargai diri kita selain diri sendiri. Jikalau kita tidak bisa menghargai diri sendiri, tidak dapat melihat kebaikan yang ada pada diri sendiri, tidak mampu memandang hal-hal baik dan positif terhadap diri, bagaimana kita bisa menghargai orang lain dan melihat hal-hal baik yang ada dalam diri orang lain secara positif? Jika kita tidak bias menghargai orang lain, bagaimana orang lain bisa menghargai diri kita ?

Jangan memusuhi diri sendiri

Peperangan terbesar dan paling melelahkan adalah peperangan yang terjadi dalam diri sendiri. Sikap menyalahkan diri sendiri secara berlebihan merupakan pertanda bahwa ada permusuhan dan peperangan antara harapan ideal dengan kenyataan diri sejati (real self). Akibatnya, akan timbul kelelahan mental dan rasa frustrasi yang dalam serta makin lemah dan negative konsep dirinya

Berpikir positif dan rasional

We are what we think. All that we are arises with our thoughts. With our thoughts, we make the world (The Buddha). Jadi, semua itu banyak tergantung pada cara kita memandang segala sesuatu, baik itu persoalan maupun terhadap seseorang. Jadi, kendalikan pikiran kita jika pikiran itu mulai menyesatkan jiwa dan raga.

 

F. Hubungan Antara Konsep Diri Dan Komunikasi

 

Konsep diri merupakan faktor yang sangat menentukan dalam komunikasi interpersonal karena setiap orang bertingkah laku sedapat mungkin sesuai dengan konsep dirinya (Rakhmat, 2003). Apabila seorang mahasiswa menganggap dirinya seorang yang rajin maka ia akan berusaha menghadiri kuliah secara teratur, duduk dikursi paling depan diruang kuliah, membuat catatan yang baik dan mempelajari materi kuliah dengan sungguh-sungguh sehingga akhirnya mendapatkan nilai yang bagus. Jadi menurut Jalaludin Rahmat : anda berperilakusesuai dengan konsep diri anda.Ada dua kualitas konsep diri yaitu konsep diri positif dan negatif. kualitas konsep diri mempengaruhi keberhasilan komunikasi interpersonal seseorang. 

Menurut Brooks dan Emmart (1976), orang yang memiliki konsep diri positif menunjukkan karakteristik sebagai berikut:

(a) Merasa mampu mengatasi masalah. Pemahaman diri terhadap kemampuan subyektif untuk mengatasi persoalan-persoalan obyektif yang dihadapi.

(b) Merasa setara dengan orang lain. Pemahaman bahwa manusia dilahirkan tidak dengan membawa pengetahuan dan kekayaan. Pengetahuan dan kekayaan didapatkan dari proses belajar dan bekerja sepanjang hidup. Pemahaman tersebut menyebabkan individu tidak merasa lebih atau kurang terhadap orang lain.

(c) Menerima pujian tanpa rasa malu. Pemahaman terhadap pujian, atau penghargaan layak diberikan terhadap individu berdasarkan dari hasil apa yang telah dikerjakan sebelumnya.

(d) Merasa mampu memperbaiki diri. Kemampuan untuk melakukan proses refleksi diri untuk memperbaiki perilaku yang dianggap kurang.

 

Sedangkan orang yang memiliki konsep diri yang negatif menunjukkan karakteristik sebagai berikut:

(a)    Peka terhadap kritik.

Kurangnya kemampuan untuk menerima kritik dari orang lain sebagai proses

refleksi diri.

(b)   Bersikap responsif terhadap pujian.

Bersikap yang berlebihan terhadap tindakan yang telah dilakukan, sehingga merasa segala tindakannya perlu mendapat penghargaan.

(c)    Cenderung merasa tidak disukai orang lain.

Perasaan subyektif bahwa setiap orang lain disekitarnya memandang dirinya dengan negatif.

(d)   Mempunyai sikap hiperkritik.

Suka melakukan kritik negatif secara berlebihan terhadap orang lain.

(e)    Mengalami hambatan dalam interaksi dengan lingkungan sosialnya.

Merasa kurang mampu dalam berinteraksi dengan orang-orang lain.

 

B. PERBANDINGAN SOSIAL (SOCIAL COMPARISON)

Masing-masing orang memiliki konsep diri yang berbeda-beda sehingga menyebakan dirinya melakukan perbandingan diri dengan orang lain. Gejala ini disebut sebagai perbandingan sosial. Perbandingan sosial terjadi manakala orang , merasa tidak pasti mengenai kemampuan pendapatnya maka meraka akan mengevaluasi diri mereka melalui perbandingan orang lain yang sama. Perbandingan sosial merupakan proses otomatis dan spontan terjadi. Umumnya motif yang

Psikologi Komunikasi dilakukan manusia dalam melakukan perbandingan sosial adalah untuk mengevaluasi diri sendiri, memperbaiki diri sendiri dan meningkatkan diri sendiri. Manusia dalam melakukan perbandingan sosial berlaku dalil umum sebagai

berikut :

 Persamaan (similarity hypothesis) : artinya manusia melakukan perbandingan dengan orang-orang yang sama dengan dirinya (lateral comparison) atau yang sedikit lebih baik dan umumnya manusia tersebut berjuang untuk menjadi lebih baik.

 Dikaitkan dengam atribut (related atribut hypothesis) : artinya manusia melakukan perbandingan dengan melihat usia, etnis dan jenis kelamin yang sama

 Downward comparison : manusia kadang membandingkan dirinya dengan orang yang lebih buruk dari dirinya. Umumnya ini dilakukan untuk mencari perasaan yang lebih baik atau mengabsahkan diri sendiri (self validating). Disini muncul dalil bahwa manusia kadang tidak objektif dalam melakukan perbandingan social

 

C. HARGA DIRI (SELF ESTEEM)

 

Harga diri merupakan komponen evaluatif dari konsep diri yang terdiri dari evaluasi positif dan negatif tentang diri sendiri. Harga diri itu hal menyukai diri. Ini bukan keangkuhan atau kesombongan, tapi percaya akan diri dan tindakan. Harga diri itu cara merasakan diri sebagai orang dan menyadari bahwa ada yang bias dilakukannya dengan baik – dengan kata lain, tentang jati diri dan perbuatan. Sebagian dari harga diri adalah perasaan mendapat tempat di dunia ini dan merupakan bagian keluarga yang mengistimewakannya, mengetahui tentang asalusulnya

dan mempunyai kepercayaan diri untuk masa depan. Mengapa harga diri itu penting? Harga diri menjadi penting karena

• Di dalam setiap budaya ada taraf dasar harga diri yang diperlukan.

• Harga diri membantu orang merasa mampu mengembangkan keterampilannya dan berguna bagi masarakat.

• Penelitian menyatakan bahwa orang perlu akan harga diri yang baik guna merasa yakin berbuat sesuatu dan mengunakan kemampuan dan bakatnya sebaik-baiknya.

 

D. Pola-pola komunikasi interpersonal

 

Pola-pola komunikasi interpersonal mempunyai efek yang berlainan pada hubungan interpersonal. Tidak benar anggapan orang bahwa makin sering orang melakukan komunikasi interpersonal dengan orang lain, makin baik hubungan mereka. Yang menjadi soal bukanlah berapa kali komunikasi dilakukan. Tetapi bagaimana komunikasi itu dilakukan. Bila antara anda dengan saya berkembang sikap curiga, makin sering anda berkomunikasi dengan saya makin jauh jarak kita. Lalu, apa saja faktor-faktor yang menumbuhkan hubungan interpersonal yang baik? Disini kita akan menyebutkan tiga hal yaitu : percaya, sikap suportif, dan sikap terbuka.

  1. Percaya Diri

Diantara berbagai faktor yang mempengaruhi komunikasi interpersonal, faktor percaya adalah yang paling penting. Bila saya percaya kepada anda, bila perilaku anda dapat saya duga, bila saya yakin anda tidak akan menghianati atau merugikan saya, maka saya akan lebih banyak membuka diri saya kepada anda. Sejak tahap yang pertama dalam hubungan interpersonal ( tahap perkenalan ), sampai pada tahap kedua ( tahap peneguhan ), “percaya” menentukan efektivitas komunikasi. Secara ilmiah, “percaya” didefinisikan sebagai “mengendalikan perilaku orang untuk mencapai tujuan yang dikehendaki, yang pencapaiannya tidak pasti dan dalam situasi yang penuh resiko” ( Giffin, 1967:224-234 ). Defenisi ini menyebutkan tiga unsur percaya:

  1. Ada situasi yang menimbulkan resiko. Bila orang menaruh kepercayaan kepada seseorang, ia akan menghadapi risiko. Risiko itu dapat berupa kerugian yang anda alami. Bila tidak ada risiko, percaya tidak diperlukan.
  2. Orang yang menaruh kepercayaan kepada orang lain berarti menyadari bahwa akibat-akibatnya bergantung pada perilaku orang lain.
  3. Orang yang yakin bahwa perilaku orang lain akan berakibat baik baginya.

“Percaya” meningkatkan komunikasi interpersonal karena membuka saluran komunikasi, memperjelas pengiriman dan penerimaan informasi, serta memperluas peluang komunikasi untuk mencapai maksudnya. Jika anda tidak mau mengungkapkan bagaimana perasaan dan pikiran anda, saya tidak akan memahami siapah anda sebenarnya. Persepsi interpersonal saya tentang diri anda terganggu. Saya mungkin mempunyai penafsiran yang salah tentang diri anda. Tanpa percaya tidak akan ada pengertian.  Tanpa pengertian terjadi kegagalan komunikasi primer.

Hilangnya kepercayaan pada orang lain akan menghambat perkembangan hubungan interpersonal yang akrab. Bila anada merasa kawan anda tidak jujur dan terbuka, anda pun akan memberikan respon yang sama. Akibatnya, hubungan akan berlangsung secara dangkal dan tidak mendalam. Keakraban hanya terjadi bila kita semua bersedia untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran kita. Jelaslah, tanpa percaya akan tumbuh kegagalan komunikasi sekunder.

Sejauh mana kita percaya kepada orang lain dipengaruhi oleh faktor-faktor personal dan situasional. Menurut Deutsch ( 1958 ), harga diri dan otoritarianisme mempengaruhi percaya. orang yang harga dirinya positif akan cenderung mempercayai orang lain, sebaliknya orang yang mempunyai kepribadian otoriter canderung sukar mempercayai orang lain. Sikap percaya berkembang apabila setiap komunikan menganggap komunikan lainnya berlaku jujur. Tentu saja sikap ini dibentuk berdasarkan pengalaman kita dengan komunikan. Karena itu sikap percaya berubah-ubah bergantung kepada komunikan yang dihadapi.

Ada tiga faktor utama yang dapat menumbuhkan sikap percaya atau mengembangkan komunikasi yang didasarkan pada sikap saling percaya yaitu :

 

  1. Menerima, adalah kemampuan berhubungan dengan orang lain tanpa menilai dan tanpa berusaha mengendalikan. Menerima adalah sikap yang melihat orang lain sebagai manusia, sebagai individu yang patut dihargai. Sikap menerima tidaklah semudah yang dikatakan. Kita selalu cenderung menilai dan sukar menerima. Akibatnya, hubungan interpersonal kita tidak berlangsung seperti yang kita harapkan. Bila kita tidak bersikap menerima, kita akan mengkritik, mengecam, atau menilai. Sikap seperti ini akan menghancurkan percaya. Orang enggan pula menerima kita, karena takut pada akibat-akibat jelek yang akan timbul dari reaksi kita. Sikap menerima menggerakkan sikap percaya, karena orang tahu kita tidak akan merugikan mereka.

Menerima tidaklah berarti menyetujui semua perileku orang lain atau rela menanggung akibat-akibat perilakunya. Menerima berarti tidak menilai pribadi orang berdasarkan perilakunya yang tidak kita senangi. Betapapun jeleknya perilakunya menurut persepsi kita, kita tetap berkomunikasi dengan dia sebagai persona, bukan sebagai objek.

 

  1. Empati, adalah faktor kedua yang menumbuhkan sikap percaya pada diri orang lain. Empati telah didefinisikan bermacam-macam. Empati dianggap sebagai memahami orang lain yang tidak mempunyai arti emosional bagi kita ( Freud, 1921 ). Empati dianggap sebagai keadaan ketika pengamat bereaksi secara emosional karena ia menganggap orang lain mengalami atau siap mengalami suatu emosi ( Scotland, et al., 1978:12 ). Empati dianggap sebagai “imaginative intellectual and emotional participation in another person’s experience” ( Benett, 1979 ).

Defenisi terakhir dikontraskan dengan pengertian simpati. Dalam simpati kita menempatkan diri kita  pada posisi orang lain. Bila saya melihat anda menangis karena kehilangan kekasih anda, saya mencoba membayangkan perasaan saya bila saya juga kehilangan kekasih. Saya beranggapan anda pun mempunyai perasaan seperti perasaan saya. Dalam empati, kita tidak menempatkan diri kita pada posisi orang lain. Kita ikut serta secara emosional dan intelektual dalam pengalaman orang lain. Berempati artinya membayangkan diri kita pada kejadian yang menimpa orang lain. Dengan empati kita berusaha melihat seperti orang lain melihat, merasakan seperti orang lain merasakannya.

  1. Kejujuran, adalah faktor ketiga yang menumbuhkan sikap percaya. Menerima dan empati mungkin saja dipersepsi salah oleh orang lain. Sikap menerima kita dapat ditanggapi sebagai sikap tak acuh, dingin dan tidak bersahabat. Empati dapat ditanggapi sebagai pura-pura. Supaya ditanggapi sebenarnya, kita harus jujur mengungkapkan diri kita kepada orang lain. Kita harus menghindari terlalu banyak melakukan “penopengan” atau “pengelolaan kesan”. Kita tidak menaruh kepercayaan kepada orang yang tidak jujur atau sering menyembunyikan pikiran dan pendapatnya. Kita menaruh kepercayaan kepada orang yang terbuka, atau tidak mempunyai pretensi yang dibuat-buat. Kita berhati-hati pada orang yang terlalu “halus” sehingga sering menyembunyikan isi hatinya atau membungkus pendapat dan sikapnya dengan lambang-lambang verbal dan nonverbal. Kejujuran menyebabkan perilaku kita dapat diduga ( predictable ). Ini mendorong orang lain untuk percaya pada kita.

 

  1. 2.     Sikap Suportif

Sikap suportif adalah sikap yang mengurangi sikap defensif dalam komunikasi. Orang bersikap defensif bila ia tidak menerima, tidak jujur, dan tidak empatis. Sudah jelas, dengan sikap defensif komunikasi interpersonal akan gagal karena orang defensif akan lebih banyak melindungi diri dari ancaman yang ditanggapinya dalam situasi komunikasi ketimbang memahami pesan orang lain.  Komunikasi defensif dapat terjadi karena faktor-faktor personal ( ketakutan, kecemasan, harga diri yang rendah, pengalaman defensif, dan sebagainya ) atau faktor-faktor situasional. Di antara faktor-faktor situasional adalah perilaku komunikasi orang lain.

Jack R. Gibb menyebutkan enam perilaku yang menimbulkan perilaku suportif yaitu :

a. Deskripsi, artinya penyampaian perasaan dan persepsi anda tanpa menilai. Deskripsi dapat terjadi juga ketika kita mengevaluasi gagasan orang lain, tetapi orang “merasa” bahwa kita menghargai diri mareka ( menerima mereka sebagai individu yang patut dihargai ).

b.  Orientasi Masalah, adalah mengkomunikasikan keinginan untuk bekerja sama mencari pemecahan masalah. Anda mengajak orang lain bersama-sama untuk menetapkan tujuan dan memutuskan bagaimana mencapainya.

c. Spontanitas, artinya sikap jujur dan dianggap tidak menyelimuti motif yang terpendam. Bila orang tahu kita melakukan strategi, ia akan menjadi defensif.

d.   Empati

Persamaan, adalah sikap memperlakukan orang lain secara horizontal dan demokratis. Dalam sikap persamaan, anda tidak mempertegas perbedaan. Status boleh jadi berbeda, tetapi komunikasi anda tidak verbal. Anda tidak menggurui, tetapi berbincang pada tingkat yang sama. Dengan persamaan, anda mengkomunikasikan penghargaan dan rasa hormat pada perbedaan pandangan dan keyakinan.

  1. Provisionalisme, adalah kesediaan untuk meninjau kembali pendapat kita, untuk mengakui bahwa manusia adalah tempat kesalahan, karena itu wajar juga kalau suatu saat pendapat dan keyakinannya bisa berubah ( “Provisional”, dalam bahasa Inggris artinya bersifat sementara atau menunggu sampai ada bukti yang lengkap ).

 

  1. 3.    Sikap Terbuka

Sikap terbuka ( open-mindedness ) amat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan komunikasi interpersonal yang efektif. Lawan dari sikap terbuka adalah dogmatisme, sehingga untuk mamahami sikap terbuka, kita harus mengidentifikasikan dogmatisme.

Marilah kita melihat contoh-contoh yang lebih jelas dan karakteristik orang yang dogmatis atau berikap tertutup :

 

a.  Menilai pesan berdasarkan motif pribadi.

Orang dogmatis tidak akan memperhatikan logika atau proposisi, ia lebih banyak melihat sejauh mana proposisi itu sesuai dengan dirinya. Argumantasi yang objektif, logis, cukup bukti akan ditolak mentah-mentah. “Pokoknya aku tidak percaya,” begitu sering diucapkan orang dogmatis. Setiap pesan akan dievaluasi berdasarkan desakan dari dalam individu ( inner pressures ). Orang dogmatis sukar menyesuaikan dirinya dengan perubahan lingkungan.

b. Berpikir simplistis.

Bagi orang dogmatis, dunia ini hanya hitam dan putih, tidak ada kelabu. Ia tidak sanggup membedakan yang setengah benar setengah salah, yang tengah-tengah. Baginya kalau tidak salah, benar. Tidak mungkin ada bentuk antara. Dunia dibagi dua : yang pro-kita di mana segala kebaikan terdapat, dan kontr-kita di mana segala kejelekan berada.

  1. Berorientasi pada sumber.

Bagi orang dogmatis yang paling penting ialah siapa yang berbicara, bukan apa yang dibicarakan. Ia terikat sekali pada otoritas yang mutlak. Ia tunduk pada otoritas, karena ( seperti umumnya orang dogmatis ) ia cenderung lebih cemas dan mempunyai rasa tidak aman yang tinggi.

  1.  Mencari informasi dari sumber sendiri.

Orang-orang dogmatis hanya mempercayai sumber informasi mereka sendiri. Mereka tidak akan meneliti tentang orang lain dari sumber yang lain. Pemeluk aliran agama yang dogmatis hanya mempercayai penjelasan tentang keyakinan aliran lain dari sumber-sumber yang terdapat pada aliran yang dianutnya.

  1. Secara kaku mempertahankan dan membela sistem kepercayaannya.

Berbeda dengan orang yang terbuka yang menerima kepercayaannya secara provisional, orang dogmatis menerima kepercayaannya secara mutlak. Orang dogmatis khawatir, bila satu butir saja dari kepercayaan yang berubah, ia akan kehilangan seluruh dunianya. Ia akan mempertahankan setiap jengkal dari wilayah kepercayaannya sampai titik darah penghabisan.Tidak mampu membicarakan inkonsisten. Ia menghindari kontrdiksi atau benturan gagasan. Informasi yang tidak konsisiten dengan desakan dari dalam dirinya akan ditolak, didistorsi, atau tidak dihiraukan sama sekali.

Just another Weblog Universitas Esa Unggul site